Usaha Diterpa Pandemi, Pengrajin Kayu dan Batik Curhat ke Presiden Jokowi

Fahreza Rizky, Jurnalis
Kamis 14 Mei 2020 13:22 WIB
Presiden Jokowi. (Foto: Biro Pers Setpres/Lukas)
Share :

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyempatkan diri berbincang dengan pelaku usaha kerajinan kayu dan batik tulis yang terdampak pandemi corona. Dalam kesempatan itu, Kepala Negara mendengarkan curahan hati (curhat) mereka secara virtual.

Pengusaha kerajinan kayu dari Bali, Ketut Gede Arthawa mengaku omzetnya turun 50% selama pandemi corona. Apalagi, selama ini dirinya menjajakan produknya secara offline atau konvensional.

"Duh, ada Covid-19 ini pengaruh sekali sampai turun 50%, tapi saya optimis untuk ke depannya akan berlalu. Kita di rumah ada galeri, dan di obyek wisata kita sewa (tempat), belum online," ucap Ketut dalam acara Gerakan Nasional #BanggaBuatanIndonesia melalui telekonferensi, Kamis (14/5/2020).

Ke depan, Ketut ingin belajar mengembangkan usahanya melalui platform digital. Dengan begitu, omzetnya bisa terkerek naik. Dia pun meminta bantuan pemerintah terkait hal itu.

Di sisi lain, Jokowi mendorong pelaku usaha seperti Ketut segera beralih ke platform digital agar usahanya semakin laris, meskipun ada pandemi corona.

"Ya kita berdoa besama agar pandemi ini segera berakhir dan ini saatnya bisa pindah, dicoba lah pindah ke platform digital untuk kembangkan usahanya. Ada yang dijual offline dan online, saya kira akan membantu tingkatkan omzet," tutur Jokowi.

Perbincangan berlanjut. Kali ini Jokowi mendengar curahan hati dari seorang pengusaha batik tulis asal Semarang, Jawa Tengah, yang menggeser usahanya jadi produksi masker kain. Dia adalah Dea Valencia.

Baca juga: Rohaniawan Konghucu: Pandemi Covid-19 Hantam Kesombongan Umat Manusia

Dea berujar, pandemi corona merupakan tantangan terbesar dalam usaha. Menurut dia, usaha batik tulis yang ditekuninya terdampak wabah tersebut. Apalagi, dia memiliki 100 lebih karyawan.

"Jujur Pak, masa pandemi ini merupakan tantangan terbesar yang saya hadapi. Awalnya sempat bingung mengingat di balik batik ada lebih 100 karyawan, di mana 50% warga difabelitas," ucapnya.

Seiring berjalannya waktu, tepatnya awal Maret, Dea mendapat kabar dari suaminya bahwa Indonesia mengalami kelangkaan masker medis. Alhasil, dia berinisiatif menggeser produksinya dari batik tulis menjadi masker kain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Dea mengaku mampu memproduksi 100 ribu masker kain sampai saat ini. Kemudian produk tersebut dipasarkan melalui e-commerce sehingga banyak yang membelinya.

"Sampai hari ini 100 ribu masker kain telah diproduksi dan dijual melalui e-commerce dan juga disalurkan secara gratis pada pekerja harian yang membutuhkan," tuturnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya