JAKARTA – Mashuri, seorang Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia, yang bekerja di di kapal "purse seine" atau pukat cincin Fu Yuan Yu 1218 berbendera China harus mengalami penyiksaam. Dia dan ketiga temannya mencoba tetap sehat dan bertahan. Mereka tidak melawan saat "perbudakan" dilakukan.
Sampailah pada hari di mana kapal tiba di sekitar Selat Malaka. Menyadari wilayahnya dekat dengan Indonesia, mereka mulai melawan anggota kapal yang mayoritas dari China, sekitar 15 orang.
"Melawan kita, terjadi pertumpahan darah. Mereka mengeroyok dan kita kalah, bonyok-bonyok, sempat ada pukulan senjata tajam juga. Di situ kami berpikir untuk lompat," kata Mashuri, kepada wartawan BBC News Indonesia Raja Eben Lumbanrau, Selasa 19 Mei 2020.
Akhirnya sekitar pukul dua pagi saat semua anggota kapal tertidur, mereka menggunakan gabus tempat menyimpan ikan dan terjun ke laut.