BRASIL – Mahkamah Agung Brasil memerintahkan membuka kembali data Covid-19 pada laman laman resmi pemerintah, setelah sebelumnya ditutup. Kementerian Kesehatan Brasil diperintahkan tidak lagi menampilkan angka kumulatif kasus positif Covid-19 dan kematian pada laman resminya, sejak Sabtu (06/06/2020), yang memicu kehebohan.
Brasil mencatat jumlah kasus Covid-19 terbanyak kedua di dunia dan sekarang mencatat angka kematian harian tertinggi di dunia. Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Brasil mengatakan hanya akan melaporkan kasus dan kematian yang terjadi dalam 24 jam terakhir.
Presiden Jair Bolsonaro mengatakan, perubahan kebijakan itu merupakan akibat dari tindakan-tindakan yang diambil untuk memperbaiki pelaporan Covid-19.
Namun pemerintahan sang presiden yang berhaluan ekstrem kanan itu dituding memanipulasi data. Sekretaris dewan nasional kesehatan negara mengatakan langkah tersebut "otoritarian, tidak sensitif, tidak manusiawi, dan tidak etis".
Hakim Mahkamah Agung, Alexandre de Moraes, meminta kementerian kesehatan untuk "sepenuhnya mengembalikan" publikasi data Covid-19 demi kepentingan kesehatan masyarakat.
Brasil memiliki kasus terbanyak kedua di dunia, dan baru-baru ini mencatat lebih banyak kematian baru dari negara-negara lain.
Negara Amerika Latin itu telah mencatat lebih dari 700.000 kasus positif Covid-19, namun karena tes yang tidak cukup, angka sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi. Lebih dari 37.000 orang telah meninggal, jumlah kematian terbanyak kedua di dunia.
Menggunakan data dari sumber alternatif, media-media di Brasil mulai mempublikasikan data virus corona mereka sendiri supaya publik tetap mendapat informasi.
Mereka mengkritik cara Presiden Bolsonaro menangani pandemi Covid-19. Sejak pandemi dimulai, presiden berhaluan kanan itu telah menentang kebijakan karantina wilayah dan meremehkan virus itu dengan menyebutnya "flu ringan".
Pada Selasa (09/06), Bolsonaro mengulangi ancaman untuk menarik Brasil dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seraya menuduh lembaga PBB itu tidak bertindak secara bertanggung jawab selama pandemi.
Pekan lalu, Bolsonaro mencap WHO sebagai "organisasi politik partisan", mirip dengan komentar yang dibuat Presiden AS Donald Trump, yang merupakan sekutunya.
Sang presiden berkali-kali bergabung dengan para pendukungnya dalam aksi protes dalam beberapa bulan terakhir, mengabaikan saran untuk menjaga jarak sosial.
(Amril Amarullah (Okezone))