Dia menegaskan, kasus DBD mulai terlihat sejak awal Januari 2020. Ketika itu kondisi memasuki musim hujan dan Kota Bekasi mengalami bencana banjir.Dilihat dari data, kasus di 2020 peningkatan terjadi di April dan pada Mei kembali mengalami penurunan.
"Awal Januari-Februari mulai kasus DBD, dari situ kasus dari sedikit mulai bertambah di Maret-April dan mulai turun di bulan Mei- Juni," beber dia.
Meskipun di tengah situasi Covid-19, kata Dezy, Dinas Kesehatan Kota Bekasi tetap fokus dalam penanganan DBD. Mulai memberikan penyuluan dan melakukan penanganan pasien.
"Selain fokus covid kami juga fokus DBD. Kita lakukuan beberapa upaya seperti fogging di lokasi sesuai hasil penyelidikan epidemiologi," ujar Dezi.
Tim puskesmas juga, lanjut dia, rutin melakukan penyuluhan kepada warga terkait pola hidup sehat dan bersih serta pemantauan jentik nyamuk. Apalagi saat Covid-19, ada tim wilayah dari Dinas Kesehatan. Mereka selain bertugas melakukan penanganan Covid-19, juga terkait DBD.
"Walaupun sambil kita tangani covid tetap lakukan penyuluhan. Di covid ini kan ada tim wilayah, jadi mereka turun sambil beri penyuluhan DBD dan laporkan jika ada kasus agar dapat ditangani dengan cepat dan baik," ungkap dia.