Corona Berujung PHK, Lulusan Sarjana Ekonomi Ini Pusing Bayar Cicilan

Hambali, Jurnalis
Rabu 08 Juli 2020 18:01 WIB
Buruh yang terkena PHK, Syukur (foto: Okezone.com/Hambali)
Share :

TANGSEL - Virus Corona memberi dampak signifikan terhadap sektor ekonomi. Imbasnya, pabrik atau perkantoran juga mau tak mau harus melakukan efisiensi guna menekan pengeluaran.

Tak jarang perusahaan memilih jalan pintas, yakni dengan mengambil kebijakan massal berupa Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Tak hanya buruh kasar di pabrik-pabrik produksi yang menjadi korban, tapi juga merambah ke buruh perkantoran.

Okezone coba berbincang dengan salah satu buruh perusahaan yang bergerak di bidang agrobisnis, Syukur Riyanto (35). Dia bercerita tentang dampak Covid yang mampu membuat kolaps perusahaan tempatnya bekerja.

"Saya menganggur sejak di PHK bulan Maret kemarin" ungkap Syukur di kediamannya, Jalan Masjid Darussalam, RT09 RW04, Kedaung, Pamulang, Tangerang Selatan, Rabu (8/7/2020).

Dikatakannya, dia sendiri adalah lulusan sarjana ekonomi dari salah satu perguruan tinggi swasta di bilangan Cirendeu, Ciputat. Meski sempat malang melintang bekerja di berbagai perusahaan, namun terakhir dia merasakan kenyamanan begitu diterima bekerja di perusahaan agrobisnis.

"Saya pernah jadi sales, pernah jadi sopir, banyak juga. Terakhir di perusahaan agrobisnis itu, saya nyaman di sana karena memang ada hubungannya juga dengan gelar saya," jelasnya.

Syukur akhirnya mulai bercerita, di mana dirinya begitu syok saat mendapat pesan whatsapp di grup internal perusahaan pada penghujung Maret 2020. Di sana dikatakan, nama-nama pekerja mana saja yang terpaksa mendapat PHK oleh perusahaan.

"Saya syok, waktu itu hari Kamis saya ingat banget. Jadi di grup disebutin nama-nama yang ada, kalau hari ini terakhir bekerja. Separuh isi kantor kena semua, jadi yang sisa cuma beberapa orang aja di kantor," imbuhnya.

Awalnya Syukur sempat kebingungan dengan keputusan itu, namun setelah menerima penjelasan pemilik perusahaan, dia pun bisa memahami bahwa kondisinya memang benar-benar sulit. Beberapa cabang perusahaan yang ada dilaporkan tutup dan bangkrut.

"Beberapa cabang perusahaan tutup, kan ada juga yang bergerak di bidang restoran. Nah itu tutup waktu awal-awal PSBB, kan mau nggak mau karyawannya juga di PHK karena pendapatannya nggak ada, mau gaji dari mana?," ucapnya.

Tanpa surat resmi, Syukur lalu beranjak pulang dari kantornya yang berada di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dia tak pernah menyangka jika hari itu adalah hari terakhirnya bekerja. Selama perjalanan, isi pikirannya campur aduk. Satu hal yang membuatnya galau, yaitu kredit kendaraan dan cicilan pinjaman.

"Saya nggak bisa fokus waktu itu, pusing mikirin kredit kendaraan, pinjaman, campur aduk," tuturnya.

Syukur sendiri tinggal bersama ibunya di Kedaung, Pamulang. Ayahnya telah wafat beberapa tahun silam. Satu tekad yang membuatnya terus bersemangat, yakni tanggung jawab membahagiakan sang ibu di usia senjanya.

"Habis di PHK, saya kerjain apa aja. Dulu pernah ngegrabe (Ojek daring) juga. Tapi saat ada kebijakan grab nggak boleh narik penumpang, saya off dulu. Terus cari serabutan kerja apa aja, sampai sekarang masih menganggur," lanjut dia.

Kota Tangsel sendiri kini memasuki PSBB tahap ke-6. Berbagai pelonggaran pun mulai dibuka. Seiring dengan itu, tentunya Syukur berharap akan ada perbaikan bagi roda ekonomi sehingga membuka peluang dibukanya kembali lapangan kerja.

"Semoga aja sudah mulai membaik kondisinya, jadi bisa bekerja lagi," tandasnya.

(Awaludin)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya