JAKARTA - Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra menyoroti kebijakan ganjil-genap yang diterapkan saat Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi fase I di Jakarta.
Menurut Hermawan, adanya ganjil-genal ini tidak cocok diterapkan saat masa pandemi Covid-19. Sebab hanya menambah risiko penyebaran virus tersebut di angkutan publik.
“Itu hanya menambah risiko orang di angkutan publik. Orang yang tadinya menggunakan mobil, akhirnya terpaksa menggunakan kereta, MRT, atau bus itu malah menambah risiko,” ungkap Hermawan saat dihubungi Okezone di Jakarta, Jumat (14/8/2020).
Hermawan berkata, kebijakan ganjil-genap tidak tepat juga bila kaitannya dengan perpanjangan PSBB transisi. Hal-hal inilah yang pemerintah harus konsisten dan sensitif pemerintah DKI.
“Jadi sektor transportasi, perhubungan itu berisiko. Bahwa ada ratusan ribu orang numplek di kereta, MRT, dan juga Transjakarta, dan lain-lain. Itu menambah risiko,” ujarnya.
Oleh sebab itu, kata dia, tempat yang rentan tidak hanya di perkantoran saja, tetapi juga di sektor transportasi dan area-area publik.
Baca Juga : Hari Pertama Pemberlakuan Sanksi Ganjil-Genap, 1.062 Pengendara Ditilang
“Jadi tidak hanya di sektor perkantoran, industri. Semuanya. Di transportasi dan di area-area publik,” katanya.
Baca Juga : Kadishub DKI Beberkan Hasil Evaluasi Kebijakan Ganjil-Genap
(Erha Aprili Ramadhoni)