Puncaknya terjadi saat 538 anggota electoral college berkumpul pada 14 Desember 2020 untuk menyertifikati hasil penghitungan suara dan meresmikan kemenangan bagi Biden dengan 302 suara berbanding 206 suara.
Pemilihan presiden AS 2020 mungkin merupakan yang paling kontroversial sepanjang sejarah negara itu. Untuk pertama kalinya, seorang kandidat menolak mengakui kekalahan dan menuding terjadinya kecurangan masif dalam penghitungan suara.
Negara-negara musuh AS mengejek apa yang terjadi di negara demokrasi terbesar di dunia itu. Presiden Venezuela menyebut penghitungan suara di AS “lamban” dan tidak transparan, sementara Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamanei mengatakan apa yang terjadi sebagai “wajah buruk dari demokrasi liberal”.
Di dalam negeri, pemilihan tersebut menimbulkan terjadinya kekacauan, sekaligus sekali lagi menunjukkan betapa terbelahnya masyarakat AS.
(Rahman Asmardika)