“Setiap ada surat yang mau kami rilis, selalu dibuat draftnya, dan diedarkan ke wag-wag (whatsapp group) komunitas GAR. Jika ada yang mendukung, mereka mencatatkan nama. Jika ada yang tidak mendukung, mereka boleh menarik namanya. Itu sebabnya setiap surat GAR jumlah penanda-tangan selalu berubah-ubah,” jelasnya.
Terkait tuduhan pencatutan nama, Shinta menyebutnya kemungkinan itu karena dinamika. Hal ini mengingat anggotanya yang mencapai ribuan.
“Kadang ada alumni yang minta tolong namanya dicatatkan oleh temannya, untuk satu kasus. Untuk kasus lainnya ternyata dia nggak mau dukung, tapi mungkin temannya tetap mencatatkan namanya,” tuturnya.
“Pernah kejadian juga ada yang protes merasa tidak mencantumkan namanya, ternyata yang mencatatkan namanya adalah orang tuanya sendiri (yang kebetulan juga anggota GAR ITB). Namanya ribuan anggota ya selalu ada dinamika,” pungkasnya.
(Khafid Mardiyansyah)