Para nelayan yang menemukannya segera menolong dan memakamkan jenazah Habib Hasan. Kayu dayung yang sudah patah digunakan sebagai nisan dibagian kepala, sementara di bagian kaki ditancapkan nisan dari sebatang kayu sebesar kaki anak-anak.
"Sementara priok nasinya ditaruh di sisi makam. Sebagai pertanda, di atas makamnya ditanam bunga tanjung," tukasnya.
Masyarakat di sekitar daerah itu melihat kuburan yang ada prioknya itu di malam hari selalu bercahaya. Lama-kelamaan masyarakat menamakan daerah tersebut Tanjung Priok. Sesuai yang mereka lihat di makam Habib Hasan, yaitu bunga tanjung dan priok.
Konon, priok tersebut lama-lama bergeser dan akhirnya sampai ke laut. Banyak orang yang bercerita bahwa, tiga atau empat tahun sekali, priok tersebut muncul di laut dengan ukuran kurang lebih sebesar rumah. Karena kejadian itulah, banyak orang menyebut daerah itu Tanjung Priok.
(Qur'anul Hidayat)