Kisah Ratu Belanda Juliana Tanda Tangan Naskah Pengakuan Kedaulatan

Doddy Handoko , Jurnalis
Kamis 25 Maret 2021 07:26 WIB
Foto: wikipedia
Share :

PEMBERIAN nama Istana Merdeka di komplek Istana Kepresidenan Jakarta mempunyai latar sejarah yang heroik.

(Baca juga: Sejarah Perjanjian Linggarjati: Menyempitnya Wilayah Indonesia hingga Timbulkan Gejolak Politik)

Pada 27 Desember 1949, Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia . Acaranya berlangsung di dua tempat, yaitu di Istana Gambir, Jakarta , dan Istana Dam, Amsterdam Belanda.

Di Istana Gambir, Wakil Tertinggi Mahkota Belanda A.H.J. Lovink melakukan upacara itu di hadapan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Ketua Delegasi Republik Indonesia dalam upacara pengakuan kedaulatan Indonesia tersebut.

(Baca juga: Cerita Menegangkan Dokter Hastry Masuk Tim Eksekusi Mati Freddy Budiman)

Karena perbedaan waktu antara Amsterdam dan Jakarta , upacara di Istana Gambir dimulai menjelang senja.

Matahari sudah hampir terbenam ketika lagu kebangsaan Belanda,Wilhelmus, berkumandang mengiringi bendera Merah–Putih–Biru untuk terakhir kalinya merayap turun dari puncak tiangnya.

Masyarakat yang berkumpul di luar halaman Istana Gambir bersorak menyaksikan turunnya bendera tiga warna itu. Sorak-sorai kian gemuruh setelah kemudian lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan mengantar bendera Merah-Putih ke puncak tiang. ”Merdeka! Merdeka! Hidup Indonesia !" begitu pekik massa yang memadati acara tersebut.

Sementara di Troonzaal (Bangsal Singgasana) Istana Dam, Amsterdam, Ratu Juliana menandatangani naskah pengakuan kedaulatan itu dan menyerahkannya kepada Perdana Menteri Republik Indonesia Mohammad Hatta yang memimpin Delegasi RI dalam perundingan itu.

Untuk pertama kalinya lagu kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan di Istana Dam. Kobaran pekik ”merdeka” pada senja bersejarah itulah yang kemudian menggerakkan Bung Karno untuk mengubah nama Istana Gambir menjadi Istana Merdeka.

Menilik sejarah Istana Merdeka yang berkaitan erat dengan kemerdekaan bangsa Indonesia itu, Ir. Tukimin Wisanggeni, Javanologi, sepakat jika Istana Kepresidenan dijadikan museum penuh. Sehingga tidak lagi dijadikan untuk aktivitas kenegaraan oleh Presiden RI . Pemindahan itu dalam konteks yang lebih luas juga menyangkut pemindahan ibukota Jakarta .

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya