KUPANG - Terdengar ada sedikit rintihan dari suara tegarnya, kala berbincang dengan media ini, Rabu (14/4/2021). Dialah Abdulah Fauzan, seorang nelayan di Kota Kupang yang terdampak badai siklon seroja, beberapa waktu lalu.
Kapal yang saban waktu dipakainya melaut menangkap ikan, untuk pemenuhan kebutuhan dalam rumah tangga, remuk dihantam badai itu.
"Tak ada lagi yang tersisa. Hanya puing-puing kapal," katanya dengan suara bergetar.
Ayah tiga anak ini tak lagi bisa berbuat banyak. Tak ada lagi penghasilan yang bisa dia setor ke istrinya. "Kami terpaksa utang di kios depan rumah. Hutang sembako," katanya.
Itu harus dilakukan, selain untuk bisa bertahan hidup. Tetapi juga agar dia dan istri serta anaknya bisa tetap menunaikan ibadah puasa.
"Hanya Tuhan yang tahu getirnya kondisi ini. Kami hanya bisa pasrah berdoa di bulan suci ini," katanya. Dia mengaku, sampai saat ini, tak ada satu pun unsur pemerintah yang datang, meskipun hanya sekadar mendata.
"Kami seolah bagian lain dari warga lain yang terdampak dan sudah diintervensi," katanya.
Bantuan apapun belum sampai ke rumahnya. Sembako, tentu juga dibutuhkan. Kebutuhan lain pun demikian. "Rumah saya atapnya hancur," katanya.
Usai berbuka di saat magrib, Abdulah mengaku hanya bisa memandang langit dengan deraian air mata, sambil mendengungkan doa kepada Allah, untuk cobaan yang sedang dia alami.