Kisah Sunan Ampel Dirikan Masjid Kembang Kuning dan Ajaran Molimo

Doddy Handoko , Jurnalis
Jum'at 16 April 2021 06:40 WIB
Sunan Ampel (Foto: Wikipedia)
Share :

Ketika Arya Damar menjabat sebagai Adipati Palembang, di sana beliau menjadi tamu. Menurut Thomas W. Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam (1977), beliau berada di sana selama dua bulan. Selama itu, beliau mengenalkan ajaran Islam kepada adipati.

Adipati tertarik dengan ajaran Islam, namun adipati tidak ingin mengambil resiko dengan menghadapi masyarakat. Maka, beliau pun masuk Islam dengan diam-diam. Namun, di dalam buku Serat Walisana dan Serat Darmogandul menyatakan bahwa adipati dan rakyatnya masuk Islam.

Versi lain menceritakan, Sunan Ampel (Raden Rahmat) datang ke pulau Jawa pada tahun 1443, untuk menemui bibinya, Dwarawati. Dwarawati adalah seorang putri Champa yang menikah dengan raja Majapahit yang bernama Brawijaya V atau Prabu Kertawijaya.

Sunan Ampel menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri seorang adipati di Tuban yang bernama Arya Teja. Mereka dikaruniai 4 orang anak, yaitu, Putri Nyai Ageng Maloka , Maulana Makdum Ibrahim ( Sunan Bonang), Syarifuddin ( Sunan Drajat dan Syarifah, yang merupakan istri dari Sunan Kudus.

Molimo, Moh (tidak mau), limo (lima), adalah falsafah dakwah Sunan Ampel untuk memperbaiki kerusakan akhlak di tengah masyarakat pada zaman itu yaitu, Moh Mabok: tidak mau minum minuman keras, khamr dan sejenisnya. Moh Main: tidak mau main judi, togel, taruhan dan sejenisnya. Moh Madon: tidak mau berbuat zina, homoseks, lesbian dan sejenisnya. Moh Madat: tidak mau memakai narkoba dan sejenisnya. Moh Maling: tidak mau mencuri, korupsi, merampok dan sejenisnya.

Baca Juga: Humor Gus Dur: Wali Songo dan Wali Sepuluh

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya