“Waktu itu kenapa kita pilih pilih 100 persen? Karena memang kita menggunakan asumsi efektifitasnya efikasi ratenya rata-rata di 60 persen. Tapi kenyataannya sekarang mungkin bisa 70 sampai 80 persen, karena yang paling rendah juga Sinovac sudah 65 persen,” papar BGS.
BGS mengatakan, untuk bisa memvaksinasi 181,5 juta jiwa membutuhkan sebanyak 313 juta dosis vaksin.
“Nah, dari 181,5 juta kita butuh sekitar 313 juta dosis vaksin. Kita kasih cadangan 15 persen. Jadi kita memang merencanakan untuk mengorder 426 juta,” katanya.
“Dari 426 juta dosis ini kita bagi menjadi 4. Dari Sinovac China, Astrazeneca dari London, kemudian Novavax itu perusahaan Amerika-Kanada, dan Bio Emtec Pfizer itu Start Up di Jerman yang kemudian didukung oleh Pfizer,” kata BGS.
Lalu, BGS pun menjelaskan kenapa hanya memiliki empat vaksin untuk digunakan di Indonesia. “Kenapa empat? Ya maksudnya supaya kalau terjadi masalah dengan satu, yang lainnya masih bisa kita terima. Dan itu yang kejadian sekarang juga," pungkasnya.
(Awaludin)