Pada Oktober 1985, pesawat Mesir yang diduga berisi militan Palestina telah dicegat oleh pesawat tempur AS. Pesawat itu kemudian dipaksa mendarat di pangkalan militer AS di Italia.
Pencegatan itu berlangsung setelah kapal pesiar Italia, Achille Lauro, dibajak di Laut Mediterania dengan ratusan penumpang di dalamnya. Seorang penumpang Yahudi Amerika tewas dalam peristiwa ini.
Empat militan dari Front Pembebasan Palestina awalnya melarikan diri, setelah mengizinkan Achille Lauro berlabuh di Mesir. Mereka kabur dari Mesir dengan pesawat sewaan dari Egyptair, yang membawa mereka ke Tunisia.
Pesawat ini kemudian dicegat oleh jet tempur F-16 di wilayah udara internasional di langit Mediterania, menurut laporan Los Angeles Times saat itu. Pesawat tersebut lantas dikawal menuju pangkalan udara AS Signella di Sisilia.
Keempat pembajak tersebut diadili dan dipenjara dalam waktu lama di Italia.
Pada 22 Oktober 1956, lima pemimpin Front Pembebasan Nasional Aljazair (FLN) berada di dalam pesawat sipil dari Rabat di Maroko menuju Tunisia, seperti dilaporkan wartawan BBC Arab, Ahmed Rouaba.
Mereka akan berpartisipasi dalam konferensi yang diselenggarakan Presiden Tunisia, Habib Bourguiba, tentang masa depan wilayah Maghreb.
Saat itu, Aljazair masih menjadi daerah koloni Prancis. Dinas rahasia Prancis mengirim jet tempur untuk mencegat pesawat tersebut, dan memaksanya mendarat di Aljazair.
Peristiwa ini telah menyulut kemarahan di Maroko dan Tunisia.
Lima orang ditangkap, termasuk Ahmed Ben Bella. Belakangan dia menjadi presiden pertama Aljazair setelah memperoleh kemerdekaan dari Prancis. Ia meninggal pada 2012 di usia 95 tahun.
(Susi Susanti)