JAKARTA - Suatu waktu, Bung Karno keasyikan mengorek kuku kakinya, hingga ujung jarinya terkelupas dan berdarah. Lukanya dianggap tak serius, dibiarkan saja tanpa pengobatan.
Beberapa hari kemudian, luka lecet itu terasa "senut-senut" infeksi. Makin lama makin bengkak, akibatnya Bung Karno sulit berjalan normal. Langkahnya harus berjingkat-jingkat.
Yang pasti pada saat itu tidak seorang pun berani tertawa, termasuk putranya, Guntur Soekarno. Dalam buku "Bung Karno: Bapakku-Kawanku-Guruku", Guntur bercerita mengenai sisi lain dari Bung Karno, ayahnya yang merupakan sang proklamator kemerdekaan Indonesia. Demikian dilansir dari Kepustakaan Presiden, Perpusnas.
Baca juga: Cerita Bung Karno Bolak Balik Kencing di Semak-Semak Istana
Baca juga: Saat Lautan Manusia Iringi Kepergian Soekarno ke Tempat Peristirahatan Terakhir
Pak jalannya kenapa pincang?
+ Jempolnya bengkak ... Bapak ingin segera sembuh. kau tahu empat hari lagi, aku harus terima surat kepercayaan duta besar asing!
Pada suatu sore ... Pak Adung menemui Guntur.
+ Mas, Pak Adung mau pinjam gunting, ada? Buat bikin lobang!
Mangga wae (silakan saja) ... buat apa sih Pak Adung?
+ Buat ngebolongin karet ... Bapak yang suruh.
Karet buat apa?
+ Eh ... itu Mas, sepatu tenis.