SELIR, dalam bahasa Jawa halus disebut garwa ampeyan, seorang wanita yang telah diikat oleh tali kekeluargaan oleh seorang lelaki, tetapi tidak berstatus istri.
"Status selir di bawah istri, dan tugasnya membuat laki-laki itu selalu senang. Itu sebabnya, selir juga disebut klangenan (arti harfiah kata ini, kesenangan). Jika lelaki yang punya selir itu belum punya istri yang sah, maka ia tetap saja seorang perjaka," ungkap Budayawan Jawa, PM.A. Masud Thayib Adiningrat.
Baca juga: Misteri Nama Candi Borobudur, Nama Desa, Gunung atau Purba?
Peran selir dan permaisuri berbeda. Permaisuri resmi mendampingi raja sehari-hari dalam urusan kerajaan, sementara para selir hanya melayani kebutuhan raja dalam hal urusan ranjang.
Ada punggawa khusus istana yang mengatur jadwal. Para selir harus sabar mendapatkan giliran bercengkerama dengan raja. Raja diatur pada jadwal gilir. Tanpa jadwal dan petugas, dikhawatirkan raja hanya memanggil selir yang diingatnya.
Baca juga: Membongkar Pesan Terakhir Bung Karno pada Guntur
Dulu ada abdi dalem yang mengirimkan anak gadisnya, minimal berusia 12 tahun ke Keraton. Resminya mereka diminta untuk belajar tari bedhaya. Mereka kerap disebut para bedhaya. Di luar itu, para orang tua yang mengirimkan anak gadisnya ke keraton berharap agar anaknya disukai raja, sehingga bisa dinikahi sebagai istri selir. Jika itu terjadi, kekayaan dan status keluarga si gadis bisa terangkat .