Bung Karno Cerita Majapahit, Mataram dan Wayang Mengakali Jepang

Doddy Handoko , Jurnalis
Kamis 08 Juli 2021 07:14 WIB
Bung Karno.(Foto:Dok Okezone)
Share :

Kiasan yang acap digunakan Sukarno, antara lain diambil dari dunia wayang dan hewan. Menurut Sukarno, cara itu justru cepat diserap nalar rakyat jelata sekalipun.

Rakyat tahu bahwa Arjuna adalah pahlawan Pandawa Lima yang negaranya direbut secara licik oleh Kurawa. Dalam perang dahsyat Mahabharata, Pandawa Lima akhirnya berhasil membinasakan Kurawa yang bathil. Dengan sedikit saja kiasan, rakyat sadar, negaranya sedang dijajah “Kurawa”, karenanya harus direbut melalui perang akbar, bila perlu.

Untuk melukiskan tokoh-tokoh, kembali Sukarno menggunakan ksatria-ksatria dunia wayang. Arjuna dilambangkan sebagai pengendalian diri-sendiri. Saudaranya, Werkudara, melambangkan seseorang yang teguh berpegang kepada kebenaran.

Sebutlah Gatotkaca, maka serta-merta orang akan teringat kepada Sukarno. Sebaliknya, kalau Bung Karno menyebut Buta Cakil, sadarlah rakyat tentang siapa yang dimaksud, karena Buta Cakil adalah perlambang raksasa yang jahat.

Selain wayang, Bung Karno menggunakan perlambang hewan. Melalui tulisan maupun pidato, Bung Karno melahirkan kiasan-kiasan yang melegenda.

Salah satunya ini: “Di bawah Matahari-Terbit, manakala Liong Barongsai dari Tiongkok bekerjasama dengan Gajah-Putih dari Muang Thai, dengan Karibu dari Filipina, dengan Burung Merak dari Burma, dengan Lembu Nandi dari India, dengan Ular Hydra dari Vietnam, dan sekarang… dengan Banteng dari Indonesia, maka Imperialisme akan hancur-lebur dari permukaan benua kita!”

Kalimat itu pada masanya, sangat mudah dicerna. Maksudnya ialah, bahwa daerah-daerah yang diduduki tadi bersatu dalam tekad untuk melenyapkan agresi.

Dengan idiom dan kiasan itu, Jepang sungguh tidak sadar. Sebaliknya, Jenderal Imamura, penguasa Jepang di Indonesia begitu menyenangi kepandaian Sukarno berpidato. Dan Sukarno jauh lebih senang. Karena dengan begitu, ia bisa berpidato di hadapan 60.000 orang pada satu rapat akbar, dan 100.000 orang lainnya dalam rapat yang lain lagi.

Dan… lebih dari itu, tidak hanya nama Sukarno, melainkan wajah Sukarno yang sudah menjalar ke seluruh pelosok kepulauan Indonesia. “Untuk itu, aku harus berterima kasih kepada Jepang…,” katanya.

(Sazili Mustofa)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya