Lebih lanjut Ia menjelaskan cerita tentang Mbah Pangeran itu terjadi pada masa penjajahan Belanda dan dipercaya sebagai cikal bakal warga Dukuh Bangunrejo. Dia mengatakan pada zaman penjajahan Belanda, Mbah Pangeran terluka saat pelarian dan akhirnya meninggal dimakamkan di situ.
“Kisahnya berbeda dengan Kedung Bagong yang dulu terdapat seperangkat gamelan yang bisa dipinjam warga. Suatu ketika ada warga yang pinjam dan gamelan hilang satu, kemudian salah satu pengantin warga itu pun tenggelam di Bengawan Solo. Sejak itu gamelan tidak terlihat lagi. Dari seperangkat gamelan itu, khusus kendangnya ada di Kedung Kendang,” jelasnya.
Dia mengatakan kisah-kisah di sepanjang aliran Bengawan Solo itu kemungkinan besar masih berkaitan.
(Rahman Asmardika)