Suzanna tetap bersikukuh meyakinkan Surapati,
“Tidak, tidak, sayangku! Ayah tidak berbeda pendapat. Beliau pun maklum, bahwa di hadapan Tuhan semua orang adalah saudara sekandung dan Dialah Bapa kita. Ayah cinta padamu dan memanjakan dirimu. Nah, aku akan menandaskan kepadanya, bahwa engkaulah satu-satunya pria yang kukehendaki sebagai suami.”
Alur cerita kemudian mengerucut, Suzanna jugalah inisiator yang mendorong pemuda bumiputra Surapati untuk segera menikahinya.
“Ayah sekarang sedang dalam perjalanan, apa yang dapat menghalangi kita untuk kawin sebelum ia pulang.”
“Maukah kau jadi suamiku?” lanjut tanya Suzanna. “Marilah kita bergegas-gegas. Tetapi di manakah upacara nikah akan kita langsungkan? Kau belum memeluk agama Nasrani, jadi di gereja tak bisa dilakukan. Kau tahu jalan keluarnya?”
Surapati menjawab:
“Nah,” ujarnya, “Sanggupkah kau menjadi istriku menurut upacara agamaku, sementara kita menantikan kesempatan untuk menikah di hadapan Tuhanmu?”