WASHINGTON - Dalam pidato kenegaraan pada malam Hari Kemerdekaan ke-76 Indonesia, Presiden Joko Widodo mengatakan, pandemi telah mengubah budaya Indonesia tetapi dengan cara yang baik. Salah satunya adalah melakukan banyak kegiatan secara daring.
Diaspora Indonesia yang berprofesi sebagai dosen di Amerika Serikat (AS) termasuk kelompok yang berkegiatan secara daring. Pandemi memudahkan mereka mengajar, bukan hanya mahasiswa mereka di Amerika tetapi juga menjangkau mahasiswa di Indonesia.
Prof. Teruna Siahaan, peneliti dan pengajar kimia pada Fakultas Farmasi, University of Kansas, sudah hampir 40 tahun tinggal di Amerika. Ia datang sebagai mahasiswa program doktoral, lalu mengajar dan menetap di Amerika. Sejak tahun lalu ia mengajar untuk beberapa perguruan tinggi negeri.
“Di Unpad (Universitas Padjadjaran) saya memberi empat kuliah di satu topik, dan empat kuliah di topik lain. Demikian juga ke FKUI (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) pascasarjana, ada beberapa kuliah saya berikan. Tetapi juga saya selalu diundang memberikan lecture di berbagai universitas, termasuk Universitas Indonesia, Airlangga, Undip (Universitas Diponegoro),” ujarnya.
(Baca juga: Taliban Berkuasa, Aktivis Wanita Tidak Akan Tinggalkan Afghanistan, Apa Sebabnya?)
Prof. Taifo Mahmud, dosen farmasi dan kimia pada Oregon State University, tahun ini mengajar untuk Universitas Negeri Riau, Universitas Sumatera Utara dan Universitas Padjadjaran. Mata kuliahnya seputar kimia dan farmasi. Mahasiswanya dari tingkat sarjana hingga pasca sarjana.
“Per mata kuliah barangkali ada dua kali masuk. Jadi, overall banyak juga ngajarnya,” kata Taifo.
Tidak mudah memberi kuliah dari Amerika ke Indonesia. Isu utamanya adalah perbedaan waktu yang sampai belasan jam. Bagi Teruna dan Taifo, perbedaan waktu itu memang bukan soal, tetapi sangat membatasi waktu mereka memberi kuliah.
(Baca juga: IMF Blokir Dana Pinjaman Rp5.336 Triliun untuk Afghanistan)
Meluangkan waktu pribadi dipilih Teruna agar bisa berbagi ilmu dengan mahasiswa dan rekan dosen di Indonesia. Ia mengajar di sela-sela waktunya memberi kuliah di Kansas dan meneliti.
Biasanya pagi, kata Teruna yang selalu bangun pukul 5:30 pagi. “Delapan pagi, berarti delapan malam sana, atau delapan malam Kansas, delapan pagi (di) sana atau terkadang jam Sembilan,” terangnya.