Wiku berujar ada tantangan yang perlu dihadapi dengan mempertahankan angka testing hingga mencapai jumlah yang stabil dan tidak ada penurunan yang signifikan dan berturut-turut.
Terutama penurunan testing dalam kelompok prioritas seperti orang bergejala atau orang yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien positif. Masyarakat berperan penting dengan jujur dan berani diperiksa ketika mengalami gejala atau memiliki riwayat kontak erat.
Selanjutnya, jika dilihat dari segi positivity rate mingguan di tingkat nasional, maka pada periode 16-22 Agustus angkanya sudah turun dibandingkan dengan puncak, yaitu dari 30,54% menjadi 18,15%. Namun, meskipun sudah turun, angka ini masih lebih tinggi dari sebelum lonjakan kasus kedua, yaitu pada kisaran bulan Juni yang hanya 9,44%.
Baca juga: Lonjakan Kasus di Luar Jawa, BNPB Siapkan Tim Reaksi Cepat Medis Covid-19
Selain itu, angka positivity rate tingkat provinsi masih menjadi perhatian. Karena hanya DKI Jakarta (11,7%) yang angkanya sudah berada dibawah 15%. Sementara, masih ada 10 Provinsi yang positivity rate-nya masih di atas 30%, di antaranya, yaitu Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Sulawesi Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jambi, Lampung dan Aceh.
"Bahkan Aceh, positivity rate-nya mencapai 51,55%, menjadi yang tertinggi di Indonesia," imbuh Wiku.
Baca juga: Sinergi Semua Pihak Diperlukan Dalam Penanganan Pandemi Covid-19