"Dua tahun ini porang dan walet baru kami garap secara serius. Tapi bukan berarti porang adalah komoditas baru. Porang itu adalah tanaman liar yang berada di hutan-hutan. Kedua adalah sarang burung walet yang secara perlahan tapi pasti bisa kita tangani untuk ekspor," tuturnya.
Di sisi lain, pemerintah juga mendorong proses hilirisasi sampai pembuatan produk olahan bernilai tinggi seperti tepung porang, beras porang, kue porang dan produk kosmetik yang dibuat dengan bahan baku porang.
"Selain itu porang juga memberi nilai kesejahteraan tinggi terhadap petani, di mana hasil Musim Tanam (MT) 1 per delapan bulan bisa menghasilkan Rp40 juta, kemudian pada MT 2 bisa menghasilkan Rp80 juta. Apalagi tanaman ini bisa ditumpangsarikan dengan tanaman pisang yang memiliki masa panen tujuh bulan. Artinya, ini potensi yang besar yang bisa memberi kemakmuran," ujarnya. (CM)
(Yaomi Suhayatmi)