Ketum Muhammadiyah: Pancasila Sangat Moderat, Jangan Ditarik ke Kanan atau Kiri

Fahreza Rizky, Jurnalis
Senin 30 Agustus 2021 15:57 WIB
Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (Dok Okezone)
Share :

JAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, Pancasila adalah fondasi kebangsaan yang moderat yang dihasilkan para pendiri bangsa. Karena itu, Haedar berpesan agar Pancasila tidak ditarik ke kiri dan kanan di era masa kini.

Haedar mengatakan, Indonesia yang telah merdeka dari belenggu penjajah hingga saat ini berdiri kokoh di atas Pancasila. Proklamator RI Soekarno memosisikan Pancasila sebagai “philosophische grondslag” atau “Weltanschauung" yaitu sebagai “fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi.”

Haedar menuturkan, Pancasila yang perumusannya mengalami proses dinamis sejak Pidato Soekarno 1 Juni 1945, Piagam Jakarta 22 Juni 1945, dan rumusan final 18 Agustus 1945 merupakan konsensus nasional dari seluruh golongan bangsa Indonesia yang berlatar belakang majemuk menjadi Bhinneka Tunggal Ika.

"Menurut sejarawan Furnivall (2009) bangsa majemuk pada dasarnya nonkomplementer laksana “air dan minyak”. Tetapi bangsa Indonesia yang majemuk itu dapat bersatu karena ada nilai yang mempersatukan yaitu Pancasila (Nasikun, 1984)," ujar Haedar saat menyampaikan pidato kebangsaan bertajuk 'Indonesia Jalan Tengah, Indonesia Milik Semua,' Senin (30/8/2021).

Haedar melanjutkan, konsensus seluruh komponen bangsa untuk menerima Pancasila sebagai dasar negara dihasilkan dari jiwa kenegarawanan para pendiri negara. Kemudian, peran tokoh Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo bersama tokoh Islam lain dalam konsensus yang bersejarah itu sangat besar, dengan kesediaan melepas “tujuh kata” Piagam Jakarta dikonversi menjadi sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Baca Juga : 3 Perangkat Tarjih Diperlukan Pendakwah Agar Tidak Membuat Orang Lari dari Agama

"Menurut Menteri Agama Alamsjah Ratu Perwiranegara, itulah “hadiah terbesar dari umat Islam”. Muhammadiyah memandang konsensus Pancasila dan berdirinya negara Indonesia yang bersejarah itu sebagai Negara Pancasila Darul Ahdi Wasyahadah," tuturnya.

Menurut Haedar, Pancasila sebagai titik temu dari kemajemukan terjadi selain atas jiwa kenegarawanan para tokoh bangsa melalui proses musyawarah-mufakat, secara substansial di dalamnya terkandung ideologi tengahan atau moderat.

"Ketika Soekarno menawarkan lima sila dari Pancasila dalam sidang BPUPKI tergambar kuat pemikiran moderat atau jalan tengah," ucapnya.

Mengenai “nasionalisme” atau “kebangsaan” Soekarno menegaskan, Indonesia harus menuju persatuan dan persaudaraan dunia. Lalu mengenai sila kedua internasionalisme, Soekarno pun mengingatkan internasionalisme tidak dapat hidup subur kalau tidak berakar di dalamnya nasionalisme. Begitu pun sebaliknya.

Kemudian tentang sila “mufakat” atau “kerakyatan”, Soekarno menyatakan, Indonesia bukan satu negara untuk satu orang atau golongan, tetapi untuk semua. Indonesia dapat kuat dengan permusyawaratan perwakilan. Lalu demokrasi yang didasari oleh permusyawaratan harus mampu mendatangkan kesejahteraan sosial.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya