Demikian halnya tentang sila “kesejahteraan”, Soekarno tidak ingin Indonesia merdeka hanya dihuni oleh kaum kapital yang merajalela. Soekarno ingin semua orang yang ada di dalam negara bisa sejahtera dan merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi.
Selanjutnya, mengenai sila ketuhanan, Soekarno dengan tegas menyatakan bahwa Indonesia merdeka harus didasari dengan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan begitu, hendaknya masing-masing orang Indonesia bertuhan dengan Tuhannya sendiri.
"Pemikiran Soekarno tentang Pancasila itu sangatlah moderat. Karenanya Pancasila maupun Negara Republik Indonesia jangan ditarik 'ke kanan' dan 'ke kiri', tetapi letakkanlah di posisi tengah agar tetap menjadi rujukan bersama kehidupan berbangsa dan bernegara," tutur Haedar.
Lebih lanjut, Haedar tidak ingin Pancasil yang moderat ditafsirkan dan diimplementasikan dengan pandangan-pandangan “radikal-ekstrem” apapun, karena akan bertentangan dengan hakikat Pancasila itu sendiri.
"Pikiran-pikiran nasionalisme yang radikal-ekstrem (ultranasionalisme, chauvinisme), keagamaan yang radikal-ektrem (cita-cita negara agama atau teokrasi, fundamentalisme agama), multikulturalisme radikal-ekstrem (paham demokrasi, hak asasi manusia, pluralisme, dan toleransi liberal-sekular), sosialdemokrasi, dan segala ideologi radikal-elstrem lainnya seperti komunisme dan liberalisme-sekularisme tidaklah sejalan dengan Pancasila yang berwatak-dasar moderat," tutur Haedar.
(Erha Aprili Ramadhoni)