JAKARTA - Duta Besar (Dubes) perempuan pertama Australia untuk Indonesia Ms. Penny Williams PSM melakukan pertemuan dengan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Dian Ediana Rae membahas kerjasama bilateral yang telah terjalin antara Pemerintah Australia dengan Pemerintah Indonesia khususnya dengan PPATK.
Dian mengatakan kunjungan yang dilakukan Dubes Australia kepada PPATK menunjukkan perhatian Pemerintah Australia terhadap peran dan kedudukan PPATK sebagai lembaga intelijen keuangan Indonesia. Ia turut memberi apresiasi atas dukungan dan kerja sama yang telah terjalin selama ini, terutama antara Australia melalui AUSTRAC dan PPATK.
“Setahu saya sudah belasan tahun kerja sama ini terjalin, terutama dalam hal penanganan pencucian uang dan pendanaan terorisme. Berbagai tindak kejahatan ekonomi lintas negara (transnational crimes), walaupun di masa pandemik ini, semakin meningkat dan dengan modus yang semakin canggih. Hal ini harus menjadi perhatian bagi PPATK dan tentunya Austrac, Australia sebagai salah satu partner handal dalam hal penegakan Rezim Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme,” kata Dian dalam keterangan tertulisnya dikutip, Jumat (3/9/2021).
Dirinya menambahkan bahwa saat ini Indonesia juga tengah mempersiapkan diri untuk penilaian Mutual Evaluation Review (MER) oleh Financial Action Task Force (FATF) untuk menjadi anggota FATF.
“Indonesia telah mempersiapkan diri untuk menghadapi MER FATF yang rencananya akan diselenggarakan mulai awal bulan November 2021, dan baru-baru ini kami telah menyelenggarakan Mock Interview sebagai pemantapan diri ketika menghadapi para asesor, dan Australia banyak memberikan kontribusi," tuturnya.
Kemudian, Dian menilai dibawah Dubes Ms Penny ini hubungan Indonesia dan Australia akan berjalan semakin baik.
Baca Juga : Negara Ini Kehabisan Uang Kas Akibat Korupsi yang Parah
"Beliau bukan saja diplomat karir tapi juga beliau memiliki pengalaman tinggal dengan keluarga Indonesia, dan bersekolah di SMA di Jakarta selama satu tahun. Program pertukaran pelajaran dalam intercultural programs seperti ini akan sangat membantu beliau didalam berkomunikasi dan memahami budaya Indonesia secara lebih baik," jelasnya.
"Pengalaman beliau sewaktu mengikuti program pertukaran pelajar (student exchange) di Indonesia, hampir bersamaan waktunya dengan waktu saya mengikuti program pertukaran pelajar (student exchange) ke Amerika Serikat pada masa sekolah SMA dulu. Mungkin karena persamaan chemistry ini yang membuat kita berdua bisa berbicara lama dengan topik yang beragam walaupun ini merupakan pertemuan pertama dengan beliau," sambungnya.