BANYAK orang hari ini meyakini bahwa keriuhan di media sosial merupakan manifestasi kebebasan. Tidak sedikit yang mengimaninya sebagai era keterbukaan, kesetaraan dan kedaulatan. Sebuah epoch yang menjadikan manusia merasa memiliki kedaulatan yang absolute. Halaman Facebook, instagram dan media sosial lain dianggap sebagai “miliknya” yang berdaulat dan otonom. Begitu pula dengan kolom komentar, bebas mengisinya dengan kalimat cercaan hingga cemoohan. Mereka meng-klaim semua itu sebagai bentuk kebebasan yang sejatinya begitu ilusif.
Kebebasan yang menegasikan nilai etik dan perasaan orang lain, bagi saya adalah kebebasan semu yang tertolak oleh ajaran keyakinan manapun. Pseudo kebebasan atau kebebasan semu yang dianut oleh sebagian kita inilah yang harus menjadi keprihatinan bersama sebagai bangsa. Bangsa yang lahir dari akar budaya timur di mana penghormatan atas orang lain dijunjung tinggi, welas asih menjadi ajaran baku dalam setiap laku kehidupan.
Baca Juga: Penghinanya Disebut Gangguan Jiwa, Gus Miftah: Gila Kok Sadar Medsos
Atas nama pseudo kebebasan, sebagian lantas merasa paling benar, paling bersih dan paling suci. Hingga kemudian muncul sebuah tradisi baru dalam masyarakat digital yaitu gemar mencemooh atau dalam bahasa Al Qur’an diterjemahkan ‘mengolok-olok’. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain . . . “ (Al Hujarat: 11).
Parahnya lagi, kebebasan ilusif di media sosial ini membawa serta pernyataan-pernyataan yang menghina fisik obyek cemoohannya. Atau dalam bahasa latin sering kita kenal sebagai argumentum ad hominem, perdebatan beralih menjadi sangat sarkas hingga berhamburan hujatan dan caci maki. Dalam situasi yang seperti itu sungguh tidak lagi nampak adanya keadaban publik. Yang tersisa hanya obsesi untuk saling menjatuhan, saling cemooh, mengolok-ngolok dan menghina satu dengan yang lain.
Dalam masyarakat digital pencemooh tertasbih sebagai elit sosial baru. Mengolok-olok atau mencemooh telah menjadi semacam habitus (kebiasaan) yang terkultuskan dalam masyarakat kita. Menjadi praktik yang digemari. Kalo tidak mencemooh tidak akan didengar…tidak pula diakui. Paradigma seperti itu memicu banyak individu untuk mencari eksistensi dengan cara mencemooh dan mengolok-olok. Praktik saling mencemooh pada masyarakat digital kian subur ketika moment pemilihan umum. Antar pendukung saling mencemooh, dunia medsos kita seketika menjadi padang kurusetra.
Baca Juga: Menag Ingatkan Semua Penghina Simbol Agama Harus Diproses Hukum