(Oleh: Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro)
POLITIK luar negeri Indonesia kini memasuki babak baru. Lebih nyata dan lebih tegas. Arah kebijakan luar negeri Indonesia kini tampak lebih jelas. Banyak langkah yang dulu terasa lambat, kini bergerak cepat. Indonesia tidak lagi hanya hadir, tetapi juga memimpin percakapan global.
Dalam beberapa bulan terakhir, posisi Indonesia makin diperhitungkan. Di UN Human Rights Council, Indonesia dipercaya menjadi ketua. Indonesia juga masuk ke dalam BRICS, klub negara ekonomi besar yang menjadi pusat perhatian dunia.
Tidak hanya itu, Indonesia juga hadir sebagai tamu kehormatan negara-negara besar di dunia, seperti Prancis, Tiongkok, dan India. Semua itu menunjukkan bahwa diplomasi Indonesia kini punya daya tarik baru.
Langkah terbaru Presiden Prabowo adalah kunjungan ke luar negeri untuk menandatangani Agreement on Reciprocal Trade atau ART. Ia juga bertemu Presiden Donald Trump dalam forum Board of Peace. Dua agenda ini mencerminkan arah diplomasi yang tidak hanya simbolik, tetapi juga konkret.
Perjanjian perdagangan resiprokal yang akan ditandatangani merupakan kesepakatan yang bertujuan menciptakan hubungan perdagangan yang lebih adil. Indonesia berhasil menurunkan tarif dagang dengan Amerika Serikat. Dampaknya bisa langsung terasa. Produk Indonesia lebih mudah masuk pasar besar. Ekspor meningkat. Lapangan kerja terbuka. Ini bukan diplomasi basa-basi, melainkan diplomasi yang menyentuh dapur rakyat.