Hal yang sama juga terlihat dari keberhasilan menandatangani CEPA dengan Uni Eropa. Kesepakatan ini membuka peluang besar bagi produk Indonesia. Industri nasional bisa naik kelas. Investasi pun semakin deras.
Semua itu adalah bukti bahwa perjalanan luar negeri presiden bukan sekadar kunjungan seremonial.
Di sisi lain, keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) memberi dimensi baru. Indonesia tidak hanya bicara soal ekonomi, tetapi juga perdamaian. Dengan posisi ini, Indonesia punya kesempatan berperan dalam konflik global, termasuk isu Palestina dan Israel. Gagasan two state solution bisa didorong dengan pendekatan yang lebih kredibel.
Di BoP, Indonesia memiliki ruang langsung untuk berdialog, berunding dengan Amerika Serikat dan Israel untuk perdamaian di Gaza. Ini bentuk langkah konkret.
Peran sebagai juru damai bukan hal baru bagi Indonesia. Sejak dulu, Indonesia dikenal sebagai negara yang aktif dalam diplomasi perdamaian. Namun, di era Presiden Prabowo, pendekatannya terasa lebih agresif. Indonesia tidak menunggu undangan. Indonesia datang dengan tawaran solusi.
Gaya diplomasi ini membuat Indonesia dilihat sebagai negara yang punya arah jelas. Bukan sekadar mengikuti arus. Indonesia kini ikut membentuk arus itu sendiri. Ini perubahan penting dalam citra internasional Indonesia.