KHARTOUM - Stasiun TV pemerintah melaporkan pada Rabu (27/10) Panglima Angkatan Darat Sudan Abdel Fattah al-Burhan memecat enam duta besar (dubes) Sudan.
Mereka yang dipecat adalah duta besar Sudan untuk Amerika Serikat (AS), Uni Eropa (UE), China, Qatar, Prancis, dan misi Sudan di Jenewa.
Dikutip Reuters, salah satu sumber diplomatik menyebutkan 12 duta besar negara asing untuk Sudan seperti AS, Uni Emirat Arab (UEA), China, dan Prancis menolak pengambilalihan kekuasaan oleh militer, yang terjadi pada Senin (25/10).
Sementara itu menurut laporan Anadolu Agency, Perdana Menteri Abdalla Hamdok dan sejumlah menteri pemerintahan sipil pada Senin (25/10) ditangkap oleh militer Sudan di tengah situasi genting di negara tersebut.
Baca juga: Kudeta Sudan, Bank Dunia hingga AS Tangguhkan Bantuan
Pada hari itu, Al-Burhan mengumumkan status darurat, membubarkan dewan kedaulatan transisi dan pemerintah, serta menangguhkan sejumlah ketentuan dokumen konstitusional yang menjabarkan transisi politik di Sudan.
Setelah kudeta gagal militer bulan lalu, ketegangan mendalam antara militer dan pemerintahan sipil meletus di tengah aksi protes rival baru-baru ini di Ibu Kota Khartoum.
Baca juga: Sudan Dikudeta, AS Bekukan Bantuan Ekonomi Rp9,9 Triliun
Sebelum jatuh ke tangan militer, Sudan diperintah oleh dewan kedaulatan dari pejabat militer dan sipil, sebagai bagian dari pakta bagi-bagi kekuasaan antara militer dan koalisi Pasukan untuk Perubahan dan Kebebasan. Mereka bertugas mengawasi masa transisi sampai digelar pemilu 2023.
(Susi Susanti)