JAKARTA - Bencana Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur pada Sabtu 4 Desember 2021 masih menjadi diskusi publik. Terutama tentang bagaimana cara ke depannya mengantisipasi kejadian serupa.
Sebenarnya antisipasi bencana gunung berapi sudah dilakukan sejak awal yakni melalui peta kawasan rawan bencana. Peta tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat.
Ahli Geologi dan Vulkanologi, Surono dalam Special Dialogue Okezone juga menjelaskan peta kawasan rawan bencana menjadi early warning system paling dini dibanding peringatan lainnya.
"Peta rawan bencana adalah early warning dibanding dari yang paling dini, dari semua yang ada, dari sistem peralatan yang ada. Ilmu dan teknologi menjadi tidak ada apa-apa, kalau masyarakat enggak sadar ya susahlah," ujarnya.
Baca juga: BNPB: 46 Meninggal Dunia dan 9.374 Jiwa Mengungsi Akibat Bencana Gunung Semeru
Surono juga menegaskan bencana akibat aktivitas gunung berapi tidak bisa diprediksi waktu kejadiannya, termasuk bencana Sunung Semeru Sabtu lalu.
"Kubah lava yang di Semeru pasti gugur pasti longsor kemudian awan panasnya ke arah Besuk Kobokan, Besuk Sat, Besuk Bang. Yang tidak pasti itu kapan terjadinya," jelasnya.
"Daerah ini rawan bencana, "bisa gak saya antisipasi?" oh kalau hanya hujan abu lebat mungkin bisa saya bikin rumah saya agak sedikit curam atapnya supaya abu tidak begitu menumpuk. Tetapi masalahnya you tahan tidak dengan angin, karena di gunung api juga banyak angin. Nah kalau dua-duanya enggak tahan ya jangan lah di situ," jelasnya.
Kemudian yang terakhir awan panas. Awan panas juga pasti akan terjadi di kawasan rawan bencana. Hanya perlu kesadaran masyarakat saja yang tetap memaksa memilih membangun pemukiman di sana artinya harus siap menerima resiko yang akan terjadi.
"Nah awan panas, awan panas datangnya mungkin 10 tahun 20 tahun mungkin 15 tahun mungkin 3 tahunan tapi yang pasti akan kena, mungkin gak saya bisa bertahan disitu," tutupnya.
(Qur'anul Hidayat)