Orang-orang yang percaya tahayul menganggap sejumlah kejadian tersebut memiliki hubungan sebab-akibat.
Menurut sarjana hubungan internasional dari Universitas Negeri Buryat di Uland-Ude, Rusia, Uelun, kepercayaan masyarakat Mongolia adalah bagian dari penghargaan terhadap Jenghis Khan yang tak ingin makamnya ditemukan.
"Mereka melakukan apapun untuk menyembunyikan makamnya. Menggali kuburan Jenghis pasti akan merusak keinginannya," terangnya.
Pola pikir Uelen itu merupakan sentimen yang biasa dipunyai warga Mongolia lainnya. Warga Mongolia memiliki tradisi panjang dan kebanggaan yang mendalam terhadap negara mereka.
Banyak keluarga di negara itu menggantung potret atau permadani bergambar Genghis Khan. Beberapa dari mereka bahkan mengaku sebagai keturunan raja.
Di seluruh Mongolia, Genghis Khan merupakan ikon yang sangat kuat.
Di luar tekanan kultural untuk menghormati permintaan terakhir Genghis Khan tentang kerahasiaan, sejumlah persoalan teknis menghalangi pencarian makam ksatria tersebut.
Mongolia memiliki wilayah yang luas dan belum terbangun secara masif—luasnya lebih dari tujuh kali tapi hanya mempunyai dua persen jalan raya dibandingkan Britania Raya.
Kepadatan penduduk negara itu pun rendah, meski tetap lebih banyak daripada Greenland dan sejumlah negara kepulauan yang terpencil. Lanksap Mongolia pun terdiri dari bentang alam yang masih alami.
Keberadaan manusia di negara itu sepertinya sebatas untuk memberikan ukuran tentang jarak, lengkungan gembala berwarna putih atau kuil batu dengan bendera-bendera peziarah yang berkibar-kibar. Sungguh lanskap yang tetap menyimpan banyak misteri.