Berita Tiongkok, seperti dikutip Sindonews menyebutkan perang terjadi pada tanggal 20 Maret 1293. Gabungan pasukan Mongol dan Majapahit menggempur kota Kadiri sejak pagi hari. Sekitar 5.000 orang Kadiri tewas menjadi korban. Akhirnya pada sore harinya, Jayakatwang menyerah dan ditawan di atas kapal Mongol.
Dikisahkan kemudian pasukan Mongol ganti diserang balik oleh pihak Majapahit untuk diusir keluar dari tanah Jawa. Sebelum meninggalkan Jawa, pihak Mongol sempat menghukum mati Jayakatwang dan Ardharaja di atas kapal mereka.
Nama Arya Wiraraja, sangat lekat dengan kerajaan di selatan Gunung Semeru tersebut. Bahkan, Arya Wiraraja menjadi raja besar di Lamajang Tigang Juru. Dalam kitab Pararaton, Arya Wiraraja tercatat dengan nama kecilnya Banyak Wide.
Secara etimologis, Banyak merupakan nama yang disandang oleh kaum Brahmana . Sedangkan Wide memiliki arti Widya yaitu pengetahuan. Banyak Wide memiliki makna Brahmana yang memiliki pengetahuan atau kecerdasan tinggi.
Dalam Pararaton juga disebutkan keterangan penting terkait Lamajang Tigang Juru dan Arya Wiraraja, yakni "Hana ta wongira, babatanganira buyuting Nangka, aran Banyak Wide, sinungan pasenggahan Arya Wiraraja, arupa tan kandel denira, dinohaken, kinon Adipati ing Songenep, anger ing Madura wetan".
Kerja sama Raden Wijaya dan Arya Wiraraja ini akhirnya melahirkan kesepakatan, yakni pembagian tanah Jawa menjadi dua yang sama besar. Hal ini disebut dalam Perjanjian Sumenep .
Dalam masa pelarian dan pendirian Majapahit , Adipati Arya Wiraraja memberi bantuan sangat besar terhadap Raden Wijaya. Bahkan, dia pula yang mengupayakan pengampunan politik untuk Raden Wijaya kepada Prabu Jayakatwang di Kediri, hingga pembukaan hutan Tarik menjadi Majapahit .
Kecerdikan Arya Wiraraja , juga sangat membantu Raden Wijaya saat mengelabuhi pasukan besar Mongol untuk menyerang Jayakatwang, dan kemudian diserang balik hingga pasukan Mongol lari tercerai-berai.