JAKARTA - Pada 1959, Ahmad Yani merekomendasikan Sarwo Edhie Wibowo menjadi Komandan Sekolah Para Komando Angkatan Darat. Usul Yani awalnya ditolak Jenderal TNI Widjojo Soejono karena dianggap nepotisme.
Namun, Yani mencoba meyakinkan Widjojo Soejono, meskipun Sarwo berwatak keras kepala tetapi ia bisa diandalkan.
"Sarwo Edhie memang keras kepala. Tapi dia bisa diandalkan," ujar Yani seperti dikutip dari buku Sarwo Edhie dan Misteri 1965, Kamis (3/3/2022).
Sarwo pun dilantik menggantikan Kapten Wijogo Atmodarminto. Yani menepati janji yang pernah dia ucapkan bertahun silam di Magelang.
Karier Sarwo Edhie terus menanjak. Pada 1963, Sarwo Edhie dikirim ke Australia mengikuti pendidikan staf.
Baca juga: Kisah Sarwo Edhie Prabowo Patah Arang dan Menangis Pangkatnya Diturunkan Ahmad Yani
Saat itu baru dua bulan menjalani pelatihan, Sarwo sudah bersitegang dengan staf sekolah gegara urusan steak yang dimasak setengah matang.
"Apa ini?" kata Sarwo. "Anda kan enggak minta apa-apa, ya sudah ini steak-nya" kata pelayan kantin.
Baca juga: Kisah Sarwo Edhie Prabowo Memulai Karier Jadi Tentara, Awalnya Bertugas Bawa Mortir
Pelayan kantin memberikan Sarwo steak yang dimasak setengah mentah. Mungkin penyajian steak seperti itu sudah biasa dikonsumsi oleh orang Australia. Namun, berbeda dengan lidah orang Indonesia, rasa steak tersebut akan terasa aneh karena terbiasa makan daging yang dimasak secara matang.
"Saya ini orang Indonesia, tahu? Saya tidak biasa makan daging mentah begini," tegas Sarwo.
Ia membanting piring, lalu masuk ke kamar. Dia pun mogok kuliah dua hari. Insiden ini memaksa komandan pelatihan meminta maaf.
(Fakhrizal Fakhri )