HUNGARIA – Perdana Menteri (PM) nasionalis Hungaria Viktor Orban mendapatkan ucapan selamat dari Presiden Rusia Vladimir Putin setelah memenangkan masa jabatan keempat dengan telak dalam pemilihan umum negara itu.
Kremlin mengatakan bahwa Putin menyatakan keyakinannya bahwa kedua negara dapat mengembangkan hubungan lebih lanjut terlepas dari situasi internasional yang sulit.
Baca juga: Menang Pemilu, Pemimpin Hungaria Sebut Presiden Ukraina Sebagai Musuh
Partai sayap kanannya Fidesz memiliki 67,8% suara dengan hampir 99% dihitung. Sedangkan aliansi oposisi yang dipimpin oleh Peter Marki-Zay jauh tertinggal dengan 28,1%.
Berdasarkan hasil awal, Kantor Pemilihan Nasional mengatakan Fidesz akan mendapat 135 kursi, dua pertiga mayoritas, dan aliansi oposisi akan mendapat 56 kursi.
Baca juga: Amankan Negaranya, Anggota NATO Larang Pasokan Senjata ke Ukraina
Kemenangan tersebut akan menjadi kemenangan keempat berturut-turut Fidesz sejak 2010.
Dalam pidato kemenangannya, Orban mengkritik birokrat Brussel dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, menyebut mereka seagai musuh.
Zelensky telah berulang kali mengkritik larangan Orban atas transfer senjata ke Ukraina, yang berbatasan dengannya.
Orban, 58, memiliki hubungan yang penuh dengan Uni Eropa (UE), yang menganggap bahwa Fidesz telah merusak lembaga-lembaga demokrasi Hongaria.
Wartawan BBC Nick Thorpe di Budapest mengatakan bahwa sementara Hungaria telah menerima lebih dari setengah juta pengungsi dari Ukraina dan telah bergabung dengan sanksi UE terhadap Rusia, Orban telah berhati-hati dalam kritiknya terhadap Moskow dan menegaskan bahwa tidak boleh ada upaya untuk memblokir penjualan gas dan minyak Rusia ke Eropa.
Beberapa negara UE lainnya, termasuk Jerman dan Austria, juga waspada terhadap sanksi bahan bakar Rusia. Orban diperkirakan akan mencari dukungan mereka untuk posisinya.
Sementara itu, Marki-Zay mengaku kalah pada Minggu (3/4) malam. Dia mengatakan oposisi telah melakukan segala sesuatu yang mungkin dilakukan secara manusiawi, tetapi kampanye itu merupakan pertarungan yang tidak setara karena politisi anti-Fidesz hanya sedikit ditampilkan di media pemerintah.
Pengamat pemilu Eropa mengatakan pemilu, meskipun berjalan dengan baik, dirusak oleh kurangnya ‘lapangan bermain’ yang setara untuk para kandidat.
“Tumpang tindih yang meluas antara pesan kampanye partai yang memerintah dan komunikasi pemerintah memiringkan lapangan permainan,” kata Jillian Stirk, seorang pejabat dari Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa.
(Susi Susanti)