Semasa kepemimpinannya, ia menolak kehadiran serta permintaan VOC untuk melakukan monopoli perdagangan. Menganggap Kerajaan Makassar sebagai ancaman dan pesaing dalam pelayaran dan perdagangan di wilayah timur, VOC kemudian membangun siasat politik adu domba. VOC berpura-pura membangun hubungan baik dan saling menguntungkan dengan Kerajaan Makassar. Setelah disambut baik, VOC langsung memberikan tuntutan, namun langsung ditentang oleh Sultan Hasannudin.
Politik adu domba yang dilancarkan Belanda juga berdampak pada terjadinya pertempuran Sultan Hasanuddin dengan Arung Palakka yang bersekutu dengan VOC, pada 1666 sampai 1667. Hal itu yang kemudian membuat Sultan Hasanuddin harus menandatangani Perjanjian Bongaya yang memaksa Sultan Hasanuddin tunduk.
3. Kaum Padri dan Kaum Adat
Pada tahun 1800-an, di Sumatera Barat terdapat dua kubu, yakni kaum Padri dan kaum Adat. Kaum Padri dipimpin oleh tokoh yang mengikuti ajaran Islam kuat, seperti Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik. Sementara kaum Adat kuat mengikuti tradisi leluhur dan adat istiadat, dipimpin oleh Sultan Arifin Muningsyah dari Kerajaan Pagaruyung. Pertentangan antara dua kubu ini terjadi saat kaum Padri berusaha memurnikan ajaran Islam dari segala bentuk adat istiadat yang bertentangan dengan Islam.