Menurut Clara yang merupakan mantan sekretaris Benny, jika bertemu dengan geng CSIS, Benny seperti "hidup kembali". Kepada merekalah Benny banyak bertanya soal perubahan politik, kondisi negara, dan masalah dunia internasional.
Baik di rumah maupun kantor CSIS, Benny masih lahap membaca segepok koran dan buku kiriman kawan-kawannya di Amerika Serikat. Sesekali ia melukis sebagai terapi pasca-stroke. Ia juga sering menonton film perang dari cakram optik di rumahnya.
Di kediamannya di Hang Lekir, Jakarta Selatan, Benny ditemani istrinya, anak tunggalnya, dan juga seorang perawat. Untuk berkomunikasi, ia dibantu lonceng, karena ketika itu hidupnya bergerak di atas kursi roda. (Sumber: Buku Benny Moerdani Yang Belum Terungkap )
(Erha Aprili Ramadhoni)