Pernah suatu kali, menurut Clara, Benny menonton film di rumah sembari merokok. Nahas, puntung rokok yang masih menyala itu jatuh di kaus nilonnya, tepat di dada. Benny berteriak, menahan sakit, sementara bara api rokok terus membakar dadanya. Lonceng sudah digerakkan, tapi tak ada yang muncul.
Kian hari tubuh Benny kian lemah, sementara sejarah bergerak. Soeharto pun lengser pada 1998, "menyusul" Benny yang lebih dulu menjauh dari kekuasaan. Hubungan mereka yang sempat beku akhirnya mencair. Benny dan Soeharto saling mengunjungi. Dari atas kursi roda, keduanya kerap diam tanpa kata. Hanya air mata yang menitik dari keduanya.
(Rahman Asmardika)