JAKARTA - Sejarah mencatat peran kiai dan ulama ikut berjuang dalam kemerdekaan Indonesia. Salah satu perjuangan kiai yang paling masyhur di antaranya KH Muhammad Yahya Gading, Kota Malang.
Cerita bom Belanda tak meledak karena rapalan hizib mengiringi kisah perjuangan Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) tersebut.
Kiai Yahya adalah putra dari pasangan KH Qoribun dengan Nyai Ratun yang lahir di Desa Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, tahun 1900 silam. Sejak kecil Kiai Yahya digembleng dengan ilmu agama ala pesantren oleh ayahnya
Kiai Yahya juga belajar kepada pamannya menjadi salah satu Mursyid Thariqah Kholidiyah, KH Abdullah.
Didikan ketat sejak dini itu membuat Kiai Yahya cinta akan ilmu. Ia pun menimba ilmu ke sejumpah pesantren, di antaranya Pesantren Bungkuk Singosari, Pesantren Cempaka Blitar, Pesantren Kuningan Blitar, Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, dan Pesantren Kiai Asy’ari Tulungagung hingga Pesantren Jampes Kediri.
Baca juga: KH Noer Alie, Si Belut Putih Pahlawan Kebanggaan Warga Bekasi
20 tahun menimba ilmu dari pesantren ke pesantren, Kiai Yahya kemudian pulang dan menjadi pengasuh generasi keempat PPMH di Gading, Kota Malang. Ia melepas lajangnya dengan menikahi Nyai Siti Khodijah, putri angkat KH Ismail. Pasangan ini dikarunia sebelas anak.
Baca juga: 3 Korban Politik Adu Domba Belanda, dari Sultan Hasanuddin hingga Sultan Ageng Tirtayasa
Kiai Yahya bukan tipologi ulama yang hanya suka berdiam diri di pesantren dengan mengajarkan ilmu agama kepada santrinya. Ia juga ulama yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan RI. Ia juga tokoh agama yang bermasyarakat, juga gemar berorganisasi.