Itu sebabnya Kiai Yahya juga berada di garis depan bersama laskar Hizbullah-Sabilillah dan BKR ketika berjuang melawan Belanda. Nah, di masa perjuangan inilah cerita bom Belanda tak meledak karena dijinakkan hizib yang dirapal Kiai Yahya kemudian masyhur.
Putra Kiai Yahya, KH Ahmad Muhammad Arif Yahya, mengatakan, pondok pesantren jadi sasaran operasi Belanda di masa kemerdekaan karena menjadi basis perjuangan rakyat.
“Sampai dibom tujuh kali (oleh Belanda), tapi tidak ada yang meletus,” katanya dlansir dari NU Online, Rabu (12/4/2022).
Cerita berbeda tentang Kiai Yahya pernah didengar Kiai Arif dari ibundanya, Nyai Siti Khodijah. Menurut Nyai Khodijah, selama menjadi pengasuh pesantren, Kiai Yahya tidak pernah pergi ke mana-mana kecuali mengajar saja.
Baca juga: KH Ahmad Dahlan Ulama Pejuang Pelopor Pendidikan Modern di Indonesia
"Abahmu gak nangdi-nangdi, gak tau rono-rono. Nek omah mulang, bengi mesti turu karo aku (Ayahmu tidak ke mana-mana. Di rumah saja mengajar, kalau malam tidur bersama saya)," ujarnya menirukan ucapan ibundanya.
Wakil Kepala Madrasah Diniyah Salafiyah Matholi’ul Huda PPMH, Ustadz M Qusyairi menjelaskan, Kiai Yahya adalah yang sangat berjasa. Di tangannyalah PPMH maju pesat. Di masa kepengasuhan Kiai Yahya santri tidak hanya berasal dari Jawa, tapi dari provinsi lain di Indonesia.
Baca juga: Kisah Kiai Subchi Ulama Pejuang Memberikan Kekuatan pada Bambu Runcing