RADEN Patah dengan para Wali Sango sepakat untuk berencana mendirikan Masjid Agung atau Masjid Jami' Demak Bintoro. Selain akan dipergunakan sebagai tempat ibadah bagi kaum muslimin kepada Allah Swt. masjid tersebut juga merupakan simbol terhadap syiar dakwah agama Islam.
Dikutip dari buku “Brawijaya Moksa Detik Detik Akhir Perjalanan Hidup Prabu Majapahit”, untuk melancarkan rencananya itu, para Wali masing masing mendapatkan tugas mencari sebuah saka guru (tiang) dari kayu jati. Alasan mereka menggunakan kayu jati selain berkualitas tinggi adalah kayu jati bagi para Wali Sanga melambangkan makna kesejatian.
Maka dari itu, para Wali Sango bahu-membahu dalam mewujudkan tugas yang diberikan Raden Patah, yakni saat membuat saka guru dari glondhongan kayu jati yang seragam ukurannya, motif atau modelnya.
Baca juga: Karomah Sunan Bonang, Pukulan Tongkatnya Bikin Sumur Air Tawar di Tepi Laut
Saat yang lain sibuk bahu-membahu, tetapi Sunan Kalijaga belum menampakkan batang hidungnya. Kemanakah gerangan Sunan Kalijaga pada saat-saat penting seperti itu justru belum muncul? Padahal, hari itu adalah hari Kamis, dan karena keesokannya harinya adalah hari Jumat, maka Masjid Jami' akan dipakai menunaikan shalat jamaah Jumat.
Sorenya, Sunan Kalijaga baru menampakkan dirinya. Melihat saka guru dari para koleganya sudah rampung, maka Sunan Kalijaga berpikir keras; bagaimana caranya agar ia dapat merampungkan tugasnya?
"Insya Allah, saya akan mengerjakan tugas ini dengan baik." begitu jawab Sunan Kalijaga ketika mendapat pertanyaan-pertanyaan seputar tugasnya.
Raden Patah serta para Wali Sanga pun bertanya tanya dalam hati; bagaimanakah cara Sunan Kalijaga menyelesaikan tugasnya? Sunan Kalijaga lalu berjalan-jalan di area masjid sambil melihat-lihat keadaan sekitarnya. Ketika melihat tatal-tatal (sisa potongan kayu kecil-kecil) dari kayu jati, tiba-tiba Sunan Kalijaga mendapatkan inspirasi.