Penyebab Redupnya Kerajaan Pajajaran di Tangan Anak Prabu Siliwangi

Avirista Midaada, Jurnalis
Rabu 27 April 2022 06:01 WIB
Prabu Siliwangi (foto: dok wikipedia)
Share :

KEMUNDURAN Kerajaan Pajajaran mulai terasa semenjak Prabu Siliwangi meninggal dunia. Sang anak Surawisesa yang menggantikan posisi Sri Baduga Maharaja, konon tidak memiliki kecakapan layaknya sang ayahnya Prabu Siliwangi.

Hal ini ditambah mulai bermunculannya kerajaan Islam seperti Demak dan Cirebon. Dikisahkan pada buku "Hitam Putih Pajajaran : dari Kejayaan hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran" tulisan Fery Taufiq El Jaquene, Pajajaran yang memiliki hubungan diplomatik dengan Portugis.

Kekuatan hubungan dengan Portugis ini membuat Portugis melakukan perjanjian dengan Pajajaran untuk mendirikan benteng di Banten dan Kalapa. Tak hanya itu, setiap kapal yang dikemudikan Portugis mendarat di Malaka, akan diberi muatan lada yang kemudian ditukar dengan barang - barang keperluan yang dibutuhkan pihak Sunda.

 BACA JUGA:Prabu Siliwangi, Sosok yang Begitu Dihormati Masyarakat Sunda

Perjanjian antara Pajajaran di bawah Surawisesa dengan Portugis ini mendatangkan kecemasan dari Kerajaan Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Trenggana. Kecemasan mengacu pada Selat Malaka yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara.

Menurut Trenggono, dengan jatuhnya Sunda dan Malaka dikuasai Portugis, secara otomatis akan melumpuhkan sektor maritim kerajaan di Nusantara. Terlebih Selat Malaka sebagai urat nadi kehidupan ekonomi Kerajaan Demak akan terputus.

 BACA JUGA:Ketika Prabu Kertanegara Putuskan Melakukan Ritual Seks Tantra Kiri

Maka Sultan Trenggono menghimpun kekuatan dan melakukan segala cara untuk bisa mengantisipasinya. Pernikahan politik dengan Cirebon, menjadikan Demak dan Cirebon memiliki hubungan yang kuat. Kelak dua kerajaan inilah yang akhirnya menyerbu ke daerah kekuasaan Portugis.

Gabungan pasukan Demak - Cirebon inilah yang menjadi kekuatan untuk menyerang Banten wilayah kekuasaan Kerajaan Pajajaran, pintu utama Selat Sunda. Sebelum pasukan ini datang di Banten, telah terjadi huru - hara yang dilakukan Pangeran Hasanuddin dan para pengikutnya. Serangan tersebut membuat masyarakat ketakutan, bahkan Bupati Banten dan keluarga besarnya kala itu terpaksa memutuskan mengungsi ke ibu kota Pakuan Pajajaran.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya