4 Tradisi Unik Malam Takbiran di Berbagai Daerah di Indonesia, Nomor 1 Usir Roh Jahat

Tim Litbang MPI, Jurnalis
Minggu 01 Mei 2022 17:05 WIB
Foto: Okezone
Share :

HARI Raya Idul Fitri tinggal menghitung hari lagi. Menjelang perayaannya, berbagai masyarakat di seluruh daerah memiliki caranya sendiri dalam merayakan hari yang fitri tersebut.

Berikut informasi lengkapnya yang dihimpun beragam sumber, Minggu (1/5/2022).

(Baca juga: Muhammadiyah Akan Hadiri Sidang Isbat Penetapan 1 Syawal 1443H)

1. Menyulut Meriam (Pontianak)

Tradisi menyulut meriam biasa dilakukan oleh masyarakat Pontianak menjelang Hari Raya Idul Fitri. Tradisi unik ini dimaksudkan agar tidak ada roh jahat yang mengganggu menjelang masa kemenangan.

Melansir laman Pemerintah Kota Pontianak, tradisi ini disebut juga sebagai meriam karbit dan biasa ditembakkan di sungai Kapuas. Meriam ini terbuat dari kayu meranti atau mabang berdiameter 50 sampai 70 cm, dengan panjang sekitar 5 hingga 6 meter. Saat ini, ada sekitar 40 kelompok meriam karbit yang aktif melestarikan tradisi khas Pontianak ini.

2. Meugang (Aceh)

Meugang adalah tradisi makan daging yang dijalankan oleh masyarakat Aceh, dalam rangka menyambut bulan Ramadan, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Dalam jurnal berjudul “Tradisi Meugang dalam Masyarakat Aceh: Sebuah Tafsir Agama dan Budaya”, dijelaskan bahwa meugang dianggap sangat penting dan tidak boleh ditinggalkan oleh masyarakat Aceh.

Tak hanya daging, jenis makanan yang disajikan dalam tradisi ini sangat beragam, seperti tape, leumang, dan timpang. Leumang adalah makanan yang terbuat dari ketan dan dipanggang di dalam bambu.

Sementara, timpang merupakan makanan yang berasal dari tepung, yang dibalut dengan daun pisang muda. Dalam melakukan meugang, masyarakat biasanya mengundang anak yatim ke kediamannya. Karena itu, meugang disebut juga sebagai momen yang pas untuk bersedekah.

3. Ronjok Sayak (Bengkulu)

Tradisi unik yang biasa dilakukan oleh masyarakat Bengkulu ini sudah banyak diketahui oleh masyarakat di luar Bengkulu. Dalam tradisi ronjok sayak, masyarakat hanya perlu mengumpulkan atau menumpuk batok kelapa sampai mirip sebuah menara. Tumpukan batok kelapa itu diletakkan di halaman rumah.

Setelahnya, gunungan batok kelapa tersebut dibakar. Dari situlah, masyarakat menyebutnya sebagai tradisi bakar gunung dan sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Batok kelapa yang dibakar itu menjadi simbol rasa syukur kepada Sang Pencipta. Sekaligus, wujud doa bagi para leluhur.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya