Bung Karno Kecil Merana Menyambut Lebaran, Miskin dan Sangat Ingin Main Petasan

Tim Okezone, Jurnalis
Senin 02 Mei 2022 11:01 WIB
Bung Karno (Foto: Youtube)
Share :

SOEKARNO di masa kanak-kanak dilahirkan di tengah kemiskinan. Ia juga dibesarkan dalam kondisi tersebut. Bahkan, dia tak memiliki sepatu dan juga kerap kesulitan air saat ingin mandi.

Bung Karno kecil juga tidak mengenal sendok dan garpu. Kehidupan yang kekurangan membuat hati kecil Bung Karno kala itu sangat sedih. Ayahnya yang bekerja hanya memiliki gaji pas-pasan dan harus tinggal di rumah kontrakan. Saat berumur 6 tahun, mereka pindah ke Mojokerto.

Keluarga Bung Karno tinggal di daerah yang warganya serba kekurangan. Meski, ada tetangganya sedikit lebih baik karena memiliki sisa uang sedikit untuk membeli pepaya atau jajanan lainnya. Namun, tidak bagi Bung Karno.

Lebaran adalah hari besar bagi umat Islam, hari penutup dari bulan puasa, bulan di mana para penganutnya menahan diri dari makan dan minum ataupun tidak melewatkan sesuatu melalui mulut mulai dari terbitnya matahari sampai ia terbenam lagi.

Kegembiraan di hari Lebaran sama dengan hari Natal. Hari untuk berpesta dan berfitrah. Akan tetapi Bung Karno dan keluarga tak pernah berpesta maupun mengeluarkan fitrah. Sebab, tidak punya uang untuk melakukan hal tersebut. 

Di malam sebelum Lebaran sudah menjadi kebiasaan bagi kanak-kanak untuk main petasan. Semua anak-anak melakukannya, kecuali dirinya. 

Hari Lebaran lebih setengah abad yang lalu, Bung Karno berbaring seorang diri dalam kamar-tidurnya yang kecil yang hanya cukup untuk satu tempat-tidur.

Dengan hati yang gundah dirinya mengintip keluar arah ke langit melalui tiga buah lubang udara yang kecil-kecil pada dinding bambu. Lubang itu besarnya kira-kira sebesar batubata.

Bung Karno merasa dirinya sangat malang. Hatinya serasa akan pecah melihat di sekeliling terdengar bunyi petasan berletusan di sela oleh sorak-sorai kawan-kawannya karena kegirangan. Betapa hancur dan luluh hatinya, mengapa semua kawan-kawannya dapat membeli petasan yang harganya satu sen itu, namun dirinya tidak. 

“Alangkah dahsyatnya perasaan itu. Mau mati aku rasanya,”

Satu-satunya jalan bagi seorang anak untuk mempertahankan diri ialah dengan melepaskan sedu-sedan yang tak terkendalikan dan meratap di atas tempat-tidurnya. Bung Karno teringat ketika menangis kepada ibu dan mengumpat.

Dari tahun ke tahun dia selalu berharap-harap, tapi tak sekalipun bisa melepaskan mercon. Suatu ketika, di malam hari datang seorang tamu menemui ayahnya. Dia memegang bungkusan kecil di tangannya. “Ini," katanya sambil mengulurkan bingkisan itu kepada Bung Karno.

Bung Karno sangat gemetar karena terharu mendapat hadiah itu, sehingga hampir tidak sanggup membukanya.

Isinya ternyata adalah petasan. Dia sangat bahagia, bahkan itu menjadi salah satu kejadian yang dapat dilupakannya untuk selama-lamanya, karena jangankan beli mercon, saking melaratnya pernah tidak bisa makan satu kali dalam sehari.

Makanan yang paling sering dimakan pun ubi kayu, jagung tumbuk dengan makanan lain. Bahkan, ibunya tidak mampu membeli beras murah yang biasa dibeli oleh para petani. Ia hanya bisa membeli padi.

Setiap pagi ibunya mengambil lesung dan menumbuk, menumbuk, tak henti-hentinya menumbuk butiran-butiran berkulit itu sampai menjadi beras seperti yang dijual orang di pasar.

“Dengan melakukan ini aku menghemat uang satu sen," katanya kepada Bung Karno pada suatu hari ketika sedang bekerja dalam teriknya panas matahari sampai telapak tangannya merah dan melepuh. Uang satu sen itu, bisa digunakan untuk membeli sayuran.

Semenjak hari itu dan seterusnya selama beberapa tahun kemudian, setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah Bung Karno menumbuk padi untuk ibunya. Kemiskinan seperti yang dialami menyebabkan orang menjadi akrab apabila tidak ada barang mainan atau untuk dimakan.

Bung Karno merasa tidak memiliki apa-apa di dunia ini selain daripada ibu. Bung Karno dekat dengan ibunya sebagai satu-satunya sumber pelepas kepuasan hatinya. “Ia adalah ganti gula-gula yang tak dapat kumiliki dan ia adalah semua milikku yang ada di dunia ini.”

Ibu mempunyai hati yang begitu besar dan mulia. Sedangkan ayahnya seorang guru yang keras. Sekalipun sudah berjam-jam, ia masih tega menyuruh belajar dan menulis. Ayahnya memiliki keyakinan, bahwa anaknya yang lahir di saat fajar menyingsing itu kelak akan menjadi ‘orang’.

“Kalau aku berbuat nakal—ini jarang terjadi—dia menghukumku dengan kasar. Seperti di pagi itu aku memanjat pohon jambu di pekarangan rumah kami dan aku menjatuhkan sarang burung. Ayah menjadi pucat karena marah. Kalau tidak salah aku sudah mengatakan padamu supaya menyayangi binatang," ia menghardik. 

“Aku bergoncang ketakutan. Ya, Pak."

Engkau dapat menerangkan arti kata-kata: 'Tat Twan Asi, Tat Twam Asi' ?" Artinya 'Dia adalah Aku dan Aku adalah dia; engkau adalah Aku dan Aku adalah engkau.” Meski tidak sengaja dan meminta maaf, Bung Karno tetap dihukum.

Bung Karno merupakan orang yang berperilaku bagi namun ayahnya sangat ingin Bung Karno disiplin yang keras dan cepat marah kalau aturannya tidak dituruti.

Di tengah kemiskinan, Bung Karno selalu mencari permainan yang tak perlu mengeluarkan uang. Di dekat rumahnya tumbuh sebatang pohon dengan daunnya yang lebar.

Daun itu ujungnya kecil, lalu mengembang lebar dipangkalnya dan tangkainya panjang. Adalah suatu hari yang gembira bagi anak-anak, kalau setangkai daun gugur, karena ini berarti bahwa dirinya mempunyai permainan.

Seorang lalu duduk di bagian daun yang lebar, sedang yang lain menariknya pada tangkai yang panjang itu dan permainan ini tak ubahnya seperti eretan.

Kisah ini dilansir dari Buku Penyambung Lidah Rakyat, karya Cindy Adams

(Arief Setyadi )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya