Selama 11 tahun atau hingga 1977, Ali bekerja keras memoles Jakarta menjadi lebih baik. Ali secara intensif keluyuran ke semua penjuru kota, menjelajahi jalanan dan gang-gang kumuh.
Dia juga mendatangi pedagang di pinggir jalan, pengemis, dan penghuni gubuk-gubuk liar. "Saya merasakan kehinaan jutaan orang yang terpaksa mandi, cuci mulut, dan cuci pakaian di sungai-sungai terbuka," kata Bang Ali, begitu sapaan akrabnya.
Saat itu, pemandangan Ibu Kota sangat kumuh, pasar yang becek, jalanan berlubang setinggi lutut, serta timbunan sampah ada di mana-mana. Sistem angkutan kota runyam, gedung sekolah bobrok, dan fasilitas mandi-cui-kakus tanpa air tersebar di mana-mana.
Bahkan, para diplomat asing menyebutnya sebagai sarang wabah disentri. Ditambah, rasa saling curiga di antara lapisan masyarakat juga belum surut menyusul tragedi 30 September 1965.
Birokrasi seolah lumpuh di segala lini. Sementara itu, inflasi mencapai 600%, urbanisasi tak terbendung, dan penganggur membanjir diiringi tingkat kriminalitas yang merajalela.
Pemerintah hanya punya dana Rp66 juta untuk mengelola kota yang saat itu berpenduduk 4,6 juta jiwa. Namun, Ali tidak putus asa. Dia menggebrak, berteriak, dan membentak aparat pajak agar mengerahkan pendapatan pajak.
Ia menuntut kerja keras dari jajaran birokrat yang melayani kepentingan publik. Dengan sikap keras, ia mendisiplinkan sedikitnya 30 ribu pegawai kotapraja. Kerja kerasnya sedikit demi sedikit membuahkan hasil.