Kahar Muzakkar, dari Pengawal Bung Karno hingga Pilih Jadi Pemberontak

Tim Okezone, Jurnalis
Kamis 26 Mei 2022 09:31 WIB
Kahar Muzakkar (Foto: Youtube)
Share :

JAKARTA - Kahar Muzakkar merupakan serdadu asal Bugis, Sulawesi Selatan, yang dicap sebagai pemberontak setelah sebelumnya berjuang dalam mengusir penjajah dan merebut kemerdekaan Indonesia.

Bahkan, namanya naik ke pentas kemiliteran dan cemerlang di era kemerdekaan dan menjadi salah satu pengawal kesayangan Presiden Soekarno.

Kahar memberontak lantaran tuntutan agar pasukan Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) pimpinannya masuk menjadi tentara namun tak mendapat restu Bung Karno.

Kahar lahir 24 Maret 1920 dari keluarga bangsawan Bugis di Lanipa, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, dengan nama lahir Achmad Nur Fatoni.

Dikutip dari buku “100 Tokoh yang Mengubah Indonesia”, pendidikan Kahar tak hanya dijalani di Sulawesi, tapi juga sampai ke Jawa dengan mengikuti Sekolah Muallimin Muhammadiyah.

Baca juga: Pemberontak Berhasil Duduki Kota Warisan Dunia Unesco

Dari situ, Abdul Kahar Muzakkar atau kadang ada yang menyebutnya Abdul Qahhar Mudzakar, mulai ikut pergerakan pemuda yang menentang pemerintahan Hindia-Belanda.

Baca juga: Peristiwa 14 Mei: Percobaan Pembunuhan Soekarno hingga Lahirnya Mark Zuckerberg

Ketika tentara pendudukan Jepang masuk ke Indonesia, Kahar yang sudah kembali ke Makassar turut bereuforia soal kedatangan “saudara tua” itu. Antusiasme Kahar ditunjukkan dengan menjadi pegawai Nippon Dohobu. Sayang, terjadi konflik antar saudara yang membuatnya “terbuang” dari Makassar, hingga akhirnya menyeberang lagi ke Solo.

Saat Jepang menyerah pada sekutu, Kahar aktif membentuk barisan pemuda. Kahar memprakarsai lahirnya Gerakan Pemuda Indonesia Sulawesi (Gepis), kemudian bertransformasi menjadi Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi (APIS) yang menjadi bagian dari Angkatan Pemuda Indonesia (API).

Dari barisan pemuda itulah, Kahar, mengenyam karier kemiliterannya. Dia memang bukan bekas Pembela Tanah Air (PETA), Heiho, Gyugun atau bahkan bekas KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger, Tentara Hindia-Belanda), seperti Panglima Soedirman, Kolonel Abdoel Haris Nasution, Letkol Achmad Jani, Slamet Rijadi, Alex Evert Kawilarang atau Adolf Lembong.

Tapi Kahar sempat menjadi pagar hidup buat Soekarno pada rapat raksasa Ikada di Jakarta, 19 September 1945.

Baca juga: Kisah Heldy Djafar, Istri Terakhir Bung Karno yang Beda Usia 47 Tahun

Dalam literatur “Tragedi Patriot dan Pemberontak Kahar Muzakkar”, dia satu-satunya pengawal Soekarno dan Mohammad Hatta dengan bersenjatakan golok, melindungi dwi tunggal ketika dikelilingi hunusan bayonet tentara Jepang usai rapat dibubarkan.

Sejak saat itu, Kahar jadi pengawal kesayangan Bung Karno yang tergabung dalam Batalyon Kesatuan Indonesia (BKI). Dikatakan Presiden RI pertama itu, situasinya takkan melulu tenteram jika tak ada Kahar di sisinya.

Baca juga: Sarinah, Bukan Wanita Biasa di Mata Bung Karno

Seiring berjalannya revolusi mempertahankan kemerdekaan, APIS pimpinan Kahar dileburkan ke dalam Kebaktian Rakjat Indonesia Sulawesi (KRIS).

Kahar yang ikut mendirikan KRIS, turut membesarkan kesatuan itu dengan mendirikan berbagai cabang KRIS di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kendati sempat keberatan lantaran KRIS terlalu dikuasai golongan bekas KNIL asal Minahasa-Manado, seperti Joop F. Warouw, Kawilarang dan Lembong. Pun begitu, Kahar pada bulan yang sama dan masuh di bawah komandi KRIS, ikut membebaskan 800 tahanan politik di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

800 tahanan ikut akhirnya dimasukkan ke dalam pasukannya dan diperbantukan di Markas Besar Tentara. Namun namanya kian tersingkir dari orbit ketika mulai lahir angkatan bersenjata yang lebih profesional, Tentara Republik Indonesia.

Dalam pembentukan Brigade XVI KRIS yang terdiri dari kesatuan-kesatuan luar Pulau Jawa, Kahar hanya jadi orang nomor dua. Kahar yang kecewa, menolak pengakuan pimpinan Brigade XVI, mulai ketika dijabat Warouw sampai Lembong.

Baca juga: Kisah Gadis Tenggarong yang Jadi Pelabuhan Cinta Terakhir Sukarno di Wisma Yaso

Seketika, sosok yang pernah disebut sebagai “La Domeng” lantaran gemar bermain domino itu melepaskan diri dari Brigade XVI. Untuk tetap mengontrol dirinya, pemerintah memberinya tugas membentuk Komando Grup Seberang.

Baca juga: Saat Cinta Bung Karno Ditolak Bidadari Solo dan Pramugari Cantik

Panglima Besar Jenderal Soedirman menugaskannya membangun komando di seberang Pulau Jawa, Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS) pada 24 Maret 1946. Kahar mengumpulkan para personelnya dari mantan anggota BKI berjumlah 1.200 orang.

Pasca-Perjanjian Linggarjati, TRIPS diubah menjadi Lasjkar Sulawesi dan Kahar tercatat membentuk satuan kecabangan Barisan Berani Mati (BBM) dari para pejuang Sulawesi di Madiun, Jawa Timur.

Perannya terus dibutuhkan tentara revolusi yang kemudian sudah berubah nama menjadi TNI, untuk membangun satuan militer di Makassar pada periode 1946-1947.

Sayang, upayanya membentuk satuan-satuan gerilya dengan membina kader-kader muda, gagal akibat terjadinya kekacauan atas ulah aksi polisionil Kapten Raymond Westerling pimpinan Korps Speciale Troepen, pasukan elite Belanda.

Sebagaimana yang pernah dialami Andi Azis, prestasi gemilang Kahar harus tercoreng gerakan pemberontakan, hingga akhirnya tewas pada 1965 ketika disergap pasukan Siliwangi di tepi Sungai Lasolo.

Baca juga: Bung Karno, John F Kennedy dan Gadis Penari Telanjang

(Fakhrizal Fakhri )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya