SLEMAN - Pihak Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping menyatakan sebelum meninggal, kondisi mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif sebenarnya sudah membaik. Alat bantuan pernapasan sudah dilepas dan sudah mulai mobilisasi.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Evita Devi Nur Rahmawati mengungkapkan, Buya dirawat di rumah sakit tersebut selama 14 hari. Kondisi Buya Syafii Maarif sudah mengalami perkembangan yang cukup baik setelah melalui berbagai perawatan.
"Itu ditandai dengan mulai dilepasnya oksigen," ucapnya, Jumat (27/5/2022).
Evita menjelaskan, beberapa hari sebelum meninggal dokter mulai melepas oksigen secara perlahan. Di samping itu, Buya sudah mulai mobilisasi dan fisioterapi. Bahkan, pihak RS berencana untuk memulangkan Buya Syafii Maarif.
Namun, Evita menyebut, Buya kembali mengeluhkan nyeri dada dan sesak napas pada Kamis (26/5/2022) sore. Ternyata Buya mengalami serangan jantung lagi.
"Kami akhirnya melakukan tindakan sesuai SOP. Selepas itu, semalaman memang Buya sudah mengeluhkan merasa tidak nyaman," ujar dia.
Dan Jumat pagi, Buya mengalami henti jantung. Pihaknya langsung melakukan resusitas, pengobatan, dan resusitasi jantung dan paru selama kurang lebih 1 jam. Upaya mereka tampaknya berhasil karena denyut nadi kembali ditemukan.
Beberapa saat kemudian serangan jantung kembali terjadi. Karena memang kondisi sumbatan yang juga sudah berat sehingga henti jantung itu kembali terjadi 40 menit setelahnya di ruang ICCU.
"Kami kembali melakukan resusitasi. Namun tidak dapat mengembalikan seperti sebelumnya. Sehingga kami menyatakan beliau meninggal dunia pukul 10.15 WIB," tuturnya.
Evita menambahkan, Buya telah menjalani perawatan di rumah sakit sejak Sabtu (14/5/202) sore. la dirawat setelah mengalami sesak napas. kondisi Buya saat masuk adalah serangan jantung yang kedua ya.
"Jadi sebelumnya memang sudah mengalami serangan jantung," katanya.
Evita menyatakan, kondisi Buya sebenarnya sudah bisa kembali membaik. Mengingat kontrol rutin yang Buya jalani dengan sangat patuh juga dengan obat. Hingga akhirnya pada serangan jantung yang kedua, kata Evita, pihaknya langsung membuat tim medis untuk secara intensif melakukan perawatan kepada beliau.
Bahkan untuk menangani Buya, tim medis RS PKU Muhammadiyah dibantu tim dokter kepresidenan (dokpres).
"Akhirnya memang diputuskan untuk dilakukan tindakan berupa kateterisasi jantung di sini," tuturnya.
Evita melanjutkan, setelah kateterisasi jantung ternyata pembuluh darah jantung Buya sudah sulit untuk ditangani. Dalam hal ini akibat sumbatannya terlalu banyak dan terlalu keras.
"Memang sudah sulit untuk dilakukan pemasangan ring ataupun dilakukan suatu operasi bypass. Kita memutuskan untuk dilakukan pengobatan yang optimal dulu gitu," tuturnya.
(Erha Aprili Ramadhoni)