Nah, seperti halnya bapakmu, engkau pun pantas menyambut terbitnya matahari. Jadilah manusia yang pantas menyambut terbitnya matahari. Ingat, yang pantas meyambut terbitnya matahari itu hanya manusia-manusia abdi Tuhan, manusia-manusia yang manfaat. Karena itu jangan cengeng! Buktikan kepada setiap orang yang menatapmu bahwa engkau memang pantas menjadi anak sulung Sukarno.”
Ekspresi sikap Guntur pascameninggalnya Bung Karno, baginya adalah sikap terbaik. Termasuk jika akhirnya ia memilih untuk tidak terjun ke gelanggang politik.
Akan tetapi, dengan sikapnya itulah kemudian ia dan adik-adiknya, relatif bisa bertahan hidup di rezim Soeharto, sebuah rezim yang telah menggulingkan bapaknya, tidak hanya dilengser dari jabatan, tetapi juga dikungkung di Wisma Yaso, tanpa bacaan, tanpa teman, tanpa keluarga.
Cerita sejarah Indonesia tentu akan berbeda, seandanya Guntur mengambil jalan politik dan melakukan perlawanan balik terhadap rezim Soeharto. Jalannya sejarah bisa menjadi, Guntur kembali mengibarkan bendera Bung Karno dengan pendukung yang sangat besar. Atau, sejarah bisa pula menjadi, Guntur dan adik-adiknya tersingkir, bahkan dalam arti harfiah.
Baca juga: Kronologi Penyusunan Dasar Negara Indonesia yang Kini Dikenal Pancasila
(Fakhrizal Fakhri )