KSAL bertindak selaku pengendali operasional. Sebagai pasukan elite dan khusus, tidak semua prajurit TNI AL bisa masuk ke detasemen ini. Prajuritnya dipilih dari Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Batalion Intai Amfibi (Taifib) Korps Marinir TNI AL. Ranah operasionalnya tidak selalu di laut. Dalam beberapa kesempatan, personel Denjaka bisa juga ditugaskan di darat maupun udara.
Selama Denjaka berdiri, Komandan Denjaka atau Dandenjaka sudah berganti sebanyak 21 kali. Setelah Gafur Chaliq, Dandenjaka kedua adalah Letnan Kolonel Marinir Djoko Pramono yang menjabat 1983-1985. Sementara Dandenjaka saat ini Kolonel (Mar) Kresno Pratowo.
Calon anggota Denjaka juga dituntut memiliki IQ tinggi agar dapat menyerap materi yang diajarkan dengan cepat dan segera mengaplikasikan di lapangan. Dari ratusan orang yang mendaftar Denjaka, tak heran hanya sekitar 50 orang bisa lolos dan bergabung dari pasukan elite yang disebut-sebut memiliki kemampuan setara dengan 120 prajurit TNI regular.
Aktivitas Denjaka bersifat rahasia. Untuk menunjang kemampuannya, prajurit Denjaka dibekali submachine gun MP5, CZ-58, HK PSG1, pistol Baretta, Daewoo K7, HK416, M4, SIG Sauer 9 mm, senapan mesin Minimi M60, Daewoo K3, senapan serbu G36, dan HK P30, Pindad ss-1
(Fahmi Firdaus )