JAKARTA - Sejumlah ilmuwan masih penasaran dengan hal-hal yang ada di semesta sebelum terjadinya ledakan besar atau Big Bang. Ledakan besar yang menjadi pemicu terciptanya semesta ini kini diprediksi akan kembali terjadi.
Fisikawan Brian Cox dalam seri terbaru BBC, Universe, mengatakan bahwa bintang terakhir akan perlahan-lahan mendingin dan memudar. Dengan kematian bintang-bintang, Semesta sekali lagi akan menjadi hampa, tanpa cahaya atau kehidupan atau makna.
BACA JUGA:Polda Metro Ungkap 19 Kasus Narkoba Internasional dalam 3 Bulan, 35 Tersangka Diamankan
Namun, dilansir dari BBC, menurut ilmuwan lainnya, kematian bintang-bintang yang menciptakan ruang hampa di semesta ini justru menjadi pemantik baru dari kemungkinan dentuman besar yang lain.
Semua materi fisik terbuat dari banyak sekali partikel-partikel yang masa hidupnya sementara, termasuk kuark, blok-blok yang membentuk proton dan neutron.
Kala itu, materi dan "antimateri" kira-kira berjumlah sama. Setiap tipe partikel materi, seperti kuark, memiliki antimateri, yakni pasangan yang sangat identik dengan partikel itu sendiri, namun memiliki satu aspek perbedaan.
Materi dan antimateri akan musnah dalam sekejap dalam ledakan energi bila keduanya bertemu, ini berarti partikel-partikel ini terus menerus tercipta dan hancur - berulang-ulang.
Tapi bagaimana awal mula munculnya partikel-partikel ini? Teori medan kuantum mengatakan, bahkan ketika alam semesta dalam keadaan hampa dan kosong, terdapat banyak sekali aktivitas fisika dalam bentuk fluktuasi energi.
Fluktuasi-fluktuasi ini dapat meledakkan partikel, yang kemudian dengan cepat menghilang.
Semesta yang hampa sebenarnya sibuk dengan partikel-partikel yang terus tercipta lalu hancur, yang terlihat seperti "tidak ada apa-apa". Mungkin ini berarti, kuantum hampa (meskipun namanya demikian), sebenarnya tak sepenuhnya kosong.
Filsuf David Albert telah lama mengkritik teori Dentuman Besar, yang memiliki premis menciptakan sesuatu dari ruang hampa.
Tapi kemudian, bila ada yang bertanya: dari mana alam semesta kosong itu berasal? Maka kita harus mundur lebih jauh lagi, hingga ke masa Planck - periode paling awal dalam sejarah alam semesta yang bisa dihitung dengan teori fisika.
Masa ini terjadi sepersepuluh juta dari satu triliun dari satu triliun triliun detik dari peristiwa Dentuman Besar. Pada titik ini, ruang dan waktu adalah subjek dari fluktuasi kuantum.
Fisikawan biasanya bekerja secara terpisah dengan mekanika kuantum, yang menghitung dunia mikro partikel, dan dengan relativitas umum, yang mengaplikasikannya dalam skala kosmik yang besar.
Tapi untuk benar-benar memahami masa Planck, kita harus menggunakan teori gravitasi kuantum dengan lengkap, dan menggabungkan keduanya.
Saat ini, kita masih belum memiliki teori gravitasi kuantum yang sempurna, tapi ada upaya untuk mendapatkannya-seperti teori dawai (string theory) dan teori gravitasi kuantum simpal (loop quantum gravity).
Dalam kedua teori ini, ruang dan waktu dilihat sebagai kemunculan, seperti gelombang di permukaan laut dalam.
BACA JUGA:Arbani Yasiz Putus Cinta dalam Episode 1 Series Vision+ Cinta di Balik Awan
Yang kita alami sekarang, ruang dan waktu adalah produk dari proses kuantum yang bekerja di level mikroskopik dan terdalam-proses yang mungkin tidak masuk akal bagi kita, makhluk yang tercipta di dunia makroskopik.
Di masa Planck, pengertian kita akan ruang dan waktu sama sekali hancur, sehingga kita juga tidak bisa mengandalkan pengertian kita akan efek kausalitas.