Menguak Misteri Semesta Sebelum Terjadinya Big Bang, Dapatkah Sesuatu Muncul dari Ketiadaan?

Tim Okezone, Jurnalis
Rabu 13 Juli 2022 03:02 WIB
Ilustrasi/ Foto: Reuters
Share :

Bagaimana mungkin semesta yang sama bisa dingin dan kosong jika dilihat dari satu perspektif, dan panas serta padat jika dilihat dari perspektif lain?

Jawabannya terletak di prosedur matematika kompleks bernama "conformal rescaling", sebuah transformasi geometri yang memengaruhi ukuran sebuah objek namun bentuknya tidak berubah.

 BACA JUGA:Satelit Astronomi China Temukan Medan Magnet Terkuat di Alam Semesta

Penrose menunjukkan bahwa keadaan kosong dingin dan keadaan padat panas dapat dihubungkan dengan penskalaan ulang sedemikian rupa, sehingga mereka serupa bila dikaitkan dengan kondisi ruang dan waktu masing-masing-perbedaannya hanya ada di ukuran saja.

Namun Penrose juga berpendapat, ukuran sebagai konsep tidak lagi masuk akal dalam lingkungan fisik yang ekstrem seperti itu.

Dalam teori conformal cyclic cosmology miliknya, penjelasan Penrose diawali dari tua dan dingin menjadi muda dan panas; keadaan panas dan padat itu muncul karena keadaan yang dingin dan kosong.

Tapi "karena" di sini bukan alasan biasa-melainkan sebab yang terjadi seiring waktu karena efeknya.

Bukan hanya ukuran yang tidak lagi masuk akal dalam keadaan ekstrem ini; waktu juga demikian. Semesta yang dingin dan kosong dengan semesta yang panas dan padat terletak dalam garis waktu yang berbeda.

Semesta yang dingin dan kosong akan terus berlanjut selamanya dari perspektif pengamat dalam geometri temporalnya sendiri, namun keadaan panas dan padat yang diakibatkannya menghuni garis waktu baru dengan sendirinya.

Teori ini dapat membantu memahami, bahwa semesta yang panas dan padat tercipta dari semesta yang dingin dan kosong melalui cara yang non-kausal.

Mungkin bisa dibilang, keadaan panas dan padat muncul dari, atau berdasar pada, atau terwujud dari keadaan dingin dan kosong.

Ini adalah gagasan metafisika yang telah banyak dieksplorasi oleh para filsuf sains, terutama dalam konteks gravitasi kuantum, di mana sebab-akibat tak berlaku.

Dengan pengetahuan kita yang terbatas, fisika dan filsafat menjadi saling berkelindan dan sulit diuraikan.

Beberapa orang meyakini semesta-semesta paralel ini bisa diamati dalam data kosmologi, dari jejak-jejak radiasi yang tercipta saat alam semesta lain bertabrakan dengan alam semesta kita.

Banyak fisikawan kuantum lain yang mengembangkan teori siklus Penrose, meski tidak ada yang disetujui oleh dirinya.

Dentuman Besar kita mungkin merupakan kelahiran kembali multiverse kuantum tunggal, yang di dalamnya terdapat banyak semesta paralel yang terjadi bersamaan. Semuanya mungkin saja terjadi, dan itu terjadi berulang-ulang.

(Nanda Aria)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya